OPINI » Potret Urban dan Refleksi Personal dalam ‘Balada Kelapa Gading’

Potret Urban dan Refleksi Personal dalam ‘Balada Kelapa Gading’

oleh
Potret Urban dan Refleksi Personal dalam 'Balada Kelapa Gading'
Ilustrasi: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Puisi “Balada Kelapa Gading” karya Mahendra Utama menyajikan sebuah potret urban yang dinamis dan kontras akan sebuah area yang bertransformasi drastis.

Puisi ini dengan lugas menggambarkan perjalanan Kelapa Gading dari “rawa yang sunyi” dengan “air, lumpur, dan alang-alang yang berbisik” menjadi kota metropolitan yang “berderap” dan tak pernah tidur.

Penulis secara efektif menyoroti peran manusia sebagai agen perubahan, dengan “truk pasir”, “peta kota di tangan”, dan “alat berat yang meraung” yang mengubah lansekap menjadi “jalan dan gedung yang menjulang”.

Selain menggambarkan hiruk pikuk kota yang kini identik dengan “Mall Kelapa Gading” dan “kantor-kantor modern”, serta “pesta kuliner” dan “festival” yang hidup, puisi ini juga menampilkan refleksi personal penyair.

Sejak tahun 2024, penyair “ikut di dalamnya”, berkantor di tengah keramaian, dan menjadi “salah satu aktor kecil yang ikut bermain” di panggung Kelapa Gading.

Keterlibatan pribadi ini memberikan kedalaman emosional, menunjukkan bahwa di balik modernitas, ada pengakuan akan masa lalu Kelapa Gading yang “pernah menjadi sunyi” dan memiliki “tanah yang pernah basah dan dingin”.

Dari observasi dan keterlibatan ini, penyair menarik pelajaran filosofis penting: “bahwa hidup adalah perubahan, bahwa keberanian adalah nyawa dari sebuah kota”.

Puisi ini berhasil memadukan deskripsi visual yang kaya dengan introspeksi pribadi, menjadikan Kelapa Gading lebih dari sekadar lokasi geografis, melainkan simbol dari evolusi dan semangat keberanian urban.

Balada Kelapa Gading

Karya: Mahendra Utama

Kelapa Gading!

Dulu engkau rawa!

Dulu engkau sunyi, hanya air, lumpur, dan alang-alang yang berbisik!

Tak ada mal, tak ada kafe, tak ada musik di malam hari.

Tapi manusia datang!

Dengan truk pasir! Dengan peta kota di tangan!

Dengan mimpi yang besar dan alat berat yang meraung di pagi hari!

Mereka menimbun!

Mereka menata!

Mereka membangun jalan dan gedung yang menjulang seperti doa yang dipanjatkan ke langit!

Dan kini engkau berderap,

Seperti kuda-kuda besi di Boulevard Raya,

Seperti langkah-langkah tergesa di lorong Mall Kelapa Gading,

Seperti deru AC di kantor-kantor modern yang tak pernah tidur!

Sejak 2024 aku pun ikut di dalamnya!

Berkantor di tengah riuhmu,

Menyapa pagi dengan kopi panas di tangan,

Menutup sore dengan lampu-lampu neon yang berkilat di kaca gedung!

Kelapa Gading!

Engkau adalah pesta kuliner!

Bakmi Bangka, soto Makassar, ramen Jepang, pasta Italia—

semua berkawan di lidah!

Engkau adalah festival!

Lampu-lampu, tenda-tenda, musik, dan orang-orang yang tak mau pulang!

Tapi aku tahu, Kelapa Gading…

Di balik riuhmu, engkau pernah menjadi sunyi.

Di balik modernmu, ada tanah yang pernah basah dan dingin.

Engkau mengajarkan padaku:

bahwa hidup adalah perubahan,

bahwa keberanian adalah nyawa dari sebuah kota.

Kelapa Gading!

Engkau bukan hanya tempat!

Engkau adalah panggung!

Dan aku—

Sejak 2024—

adalah salah satu aktor kecil yang ikut bermain di dalamnya!

Baca Juga: Nusantara Membentang dari Landasan ke Pangkuan Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *