Pendidikan » Riset Dr. Ukhti Ciptawaty: Bansos Perlu Pendekatan Berbasis Wilayah

Riset Dr. Ukhti Ciptawaty: Bansos Perlu Pendekatan Berbasis Wilayah

oleh
Riset Dr. Ukhti Ciptawaty: Bansos Perlu Pendekatan Berbasis Wilayah
Prof. Dr. Ayi Ahadiat memimpin ujian terbuka promosi doktor Ukhti Ciptawaty di Gedung Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Bandar Lampung, Selasa (10/2/2026). Dokumentasi Universitas Lampung

DASWATI.ID – Ukhti Ciptawaty resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Ekonomi ke-54 dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka pada Selasa (10/2/2026).

Penelitiannya menyoroti bahwa efektivitas program bantuan sosial (bansos) nasional sangat bergantung pada karakteristik daerah masing-masing.

Melalui disertasi berjudul “Efektivitas Program Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia Periode 2000–2022”, Ukhti menganalisis dua program besar, yaitu Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH).

Hasilnya menunjukkan bahwa dampak bantuan tersebut belum merata di 34 provinsi Indonesia.

“Bantuan sosial pemerintah belum sepenuhnya memberikan dampak merata bagi masyarakat di seluruh daerah,” tegas Ukhti dalam paparannya di hadapan tim penguji.

Penelitiannya mengungkap bahwa bansos memberikan dampak positif signifikan pada pendapatan masyarakat di wilayah seperti Riau, Bengkulu, Sulawesi Selatan, hingga Papua.

Di daerah-daerah tersebut, bansos efektif menjaga daya beli dan memperkuat ekonomi keluarga miskin.

Namun, di banyak provinsi lain, pengaruh program ini terhadap peningkatan kesejahteraan rumah tangga justru belum terasa signifikan.

Pentingnya Desain Kebijakan Berbasis Wilayah

Menurut Ukhti, perbedaan hasil ini dipicu oleh keberagaman karakteristik ekonomi, struktur sosial, serta kapasitas pemerintah daerah dalam mengimplementasikan program.

Ia menekankan bahwa kebijakan nasional yang seragam tidak selalu menghasilkan dampak yang sama di tingkat lokal.

Ukhti menjelaskan bahwa efektivitas pengentasan kemiskinan bukan sekadar masalah besaran dana yang dikucurkan.

“Efektivitas program bukan sekadar soal distribusi anggaran, tetapi tentang ketepatan desain kebijakan,” ungkap dia.

Ia menambahkan bahwa tanpa penyesuaian berbasis data dan kebutuhan spesifik daerah, manfaat program bagi masyarakat miskin menjadi kurang optimal.

Temuan ini menjadi sangat penting mengingat data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan masih ada 25,85 juta orang atau sekitar 8,47 persen penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sebagai solusi, Ukhti mendorong pemerintah untuk segera melakukan evaluasi berkala dan mulai menerapkan pendekatan berbasis wilayah dalam pelaksanaan BPNT maupun PKH.

Langkah ini diharapkan dapat memastikan bantuan sosial tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi stabilitas ekonomi rumah tangga secara berkelanjutan di seluruh penjuru tanah air.

Ujian promosi doktor yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ayi Ahadiat ini turut dihadiri oleh tim penguji eksternal dari Universitas Bangka Belitung serta jajaran promotor FEB Unila.

Penelitian Ukhti kini menjadi referensi ilmiah penting bagi pembuat kebijakan dalam memperkuat upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Baca Juga: Potret Penurunan Kemiskinan di Lampung September 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *