DASWATI.ID – Lampung mencatat inflasi 0,19% pada Maret 2026. Namun, penurunan harga pangan seperti cabai merah mengancam pendapatan petani di tengah momentum Ramadan.
DALAM ARTIKEL:
Angka inflasi sering kali menjadi indikator kesehatan ekonomi yang paling diperhatikan.
Pada Maret 2026, Provinsi Lampung mencatat inflasi bulanan yang cukup rendah, yakni hanya 0,19 persen.
Meskipun angka ini menunjukkan stabilitas harga di pasar, pemerintah perlu mencermati dinamika di balik angka tersebut, terutama dampaknya bagi para produsen di tingkat tapak.
Inflasi Terjaga di Tengah Ramadan
Meskipun bertepatan dengan momentum Ramadan, laju kenaikan harga di Lampung justru melandai jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel Adie Prakasa, menyatakan bahwa inflasi Provinsi Lampung Maret 2026 terjaga di level 0,19.

Capaian ini jauh lebih kecil daripada Maret 2025 yang sempat menyentuh angka 1,96 persen.
“Secara tahunan pun, inflasi Lampung hanya berada di angka 1,16 persen, lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu sebesar 1,58 persen,” ujar Sabiel di Bandar Lampung, Rabu (1/4/2026).
Ancaman Deflasi bagi Petani
Di balik rendahnya inflasi umum, terdapat fakta bahwa beberapa komoditas pangan justru mengalami penurunan harga atau deflasi.
BPS Provinsi Lampung menyebut cabai merah menjadi komoditas utama yang menahan laju inflasi dengan andil deflasi sebesar -0,09 persen.
Selain cabai, harga tomat, bawang merah, dan bawang putih juga cenderung turun atau memberikan andil negatif terhadap inflasi.
Fenomena ini menjadi “pisau bermata dua”; menguntungkan konsumen di meja makan, namun berisiko menekan pendapatan petani akibat anjloknya harga jual di tingkat lahan.
Daging Ayam dan Listrik Masih Membayangi

Meskipun harga sayur-mayur turun, masyarakat masih menghadapi kenaikan biaya pada sektor lain.
Daging ayam ras menjadi pemicu inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,05 persen, disusul oleh telur ayam ras, bensin, dan beras.
Sementara itu, dalam skala tahunan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan tekanan paling besar.
Kelompok ini mengalami inflasi 8,78 persen dengan andil mencapai 1,03 persen, di mana tarif listrik menjadi penyumbang utamanya.
Ketimpangan Harga Antarwilayah
Dinamika harga ini tidak merata di seluruh wilayah Lampung.
Kabupaten Mesuji mencatatkan inflasi bulanan tertinggi mencapai 0,80 persen, sedangkan Lampung Timur menjadi daerah dengan inflasi bulanan paling rendah, yaitu hanya 0,04 persen.
Di tingkat kota, Metro mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 1,62 persen.
Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa distribusi logistik dan ketersediaan pasokan lokal sangat menentukan stabilitas harga yang dirasakan masyarakat di setiap sudut provinsi.




