DASWATI.ID – Surplus dagang Lampung USD411,47 juta, namun inflasi 0,36% mulai hantui Ramadan. Kesejahteraan petani & sektor jasa pun terkoreksi.
DALAM ARTIKEL:
- Kinerja Ekspor Tetap Tangguh
- Inflasi Ramadan Mulai Terasa
- Tantangan Bagi Petani Lokal
- Aktivitas Wisata Kembali Normal
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, Senin (2/3/2026), kinerja perdagangan luar negeri tampil gemilang dengan raihan surplus sebesar USD411,47 juta pada Januari 2026.
Namun, di balik angka ekspor yang membanggakan, masyarakat mulai merasakan tekanan harga barang di pasar menjelang bulan suci Ramadan.
Kinerja Ekspor Tetap Tangguh
Provinsi Lampung berhasil membukukan nilai ekspor sebesar USD500,14 juta pada Januari 2026, naik 4,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sektor lemak dan minyak hewan/nabati menjadi primadona dengan sumbangan sebesar 45,05 persen dari total ekspor, disusul oleh kopi, teh, dan rempah-rempah.
“Neraca perdagangan luar negeri Lampung pada Januari 2026 kembali mencatatkan kinerja positif,” ujar Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, Muhammad Sabiel Adi Prakasa, dalam keterangannya.
Baca Juga: Agrikultur Lampung Makin Digdaya, Ekspor Tumbuh Lampaui 2025
Sementara itu, dari sisi domestik, warga Lampung harus menghadapi kenyataan pahit terkait kenaikan harga barang konsumsi.
Inflasi Ramadan Mulai Terasa
Memasuki masa Ramadan, Lampung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,36 persen pada Februari 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pemicu utama karena kenaikan harga daging ayam ras, bawang merah, cabai rawit, hingga tomat.
Tak hanya pangan, tarif listrik dan harga emas perhiasan juga ikut melambung dan memberikan andil signifikan terhadap beban hidup masyarakat secara tahunan.

Dampak kenaikan harga ini ternyata merembet dan menyentuh sektor hulu, khususnya para produsen di pedesaan.
Baca Juga: Awal Ramadan: Bensin Redam Gejolak Inflasi di Lampung
Tantangan Bagi Petani Lokal
Kesejahteraan petani Lampung sedikit terkoreksi dengan penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 1,06 persen pada Februari 2026.
Kondisi ini terjadi karena harga komoditas perkebunan seperti kopi dan kakao sedang turun, sementara biaya kebutuhan sehari-hari petani justru meningkat.
Meski turun ke level 126,81, daya tukar petani secara umum masih berada di atas level dasar, yang menunjukkan mereka tetap memiliki daya beli yang cukup kuat.
Selain dinamika harga di pasar dan ladang, aktivitas di sektor jasa juga menunjukkan perubahan pola yang signifikan.
Baca Juga: Sektor Perkebunan Seret NTP Lampung Februari 2026 Turun 1,06 Persen
Aktivitas Wisata Kembali Normal
Sektor pariwisata dan transportasi mengalami normalisasi atau penurunan aktivitas pasca-libur akhir tahun.
Tingkat penghunian kamar hotel berbintang merosot 12,21 persen poin pada Januari 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan jumlah penumpang juga terjadi pada seluruh moda transportasi, mulai dari pesawat terbang, kapal laut, hingga kereta api, seiring berakhirnya masa puncak liburan (peak season).
Baca Juga: Tingkat Hunian Hotel di Lampung Melandai Pasca-Libur Akhir Tahun
Secara keseluruhan, ekonomi Lampung menunjukkan performa eksternal yang solid namun menghadapi tantangan stabilitas harga di tingkat lokal yang perlu mendapat perhatian serius.

