Lampung » HIPMI: HUT Lampung Timur Mesin Ekonomi Rakyat

HIPMI: HUT Lampung Timur Mesin Ekonomi Rakyat

oleh
HIPMI: HUT Lampung Timur Mesin Ekonomi Rakyat
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung Timur, Fitra Aditya Irsyam. Foto: Istimewa

DASWATI.ID – HIPMI menilai festival HUT ke-27 Lampung Timur sebagai mesin ekonomi rakyat yang melibatkan ribuan UMKM guna mendorong pemerataan di wilayah Bandar Sribhawono.

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Lampung Timur pada pertengahan April 2026 menjadi momentum besar bagi kebangkitan ekonomi daerah.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung Timur, Fitra Aditya Irsyam, menegaskan bahwa rangkaian acara ini adalah mesin penggerak ekonomi rakyat.

Ia mengajak semua pihak melihat esensi festival sebagai peluang meningkatkan kesejahteraan warga.

Fokus Perekonomian Masyarakat

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) telah menyelesaikan polemik desain logo dengan melibatkan tokoh adat.

Aditya mengapresiasi sikap terbuka pemerintah yang mendengar aspirasi masyarakat tersebut.

Kini, ia meminta masyarakat beralih fokus untuk mendukung hajat hidup orang banyak, terutama sektor ekonomi.

“Respons cepat Pemkab soal logo patut kita hargai. Sekarang saatnya kita fokus mendukung hajat hidup orang banyak, yaitu perekonomian masyarakat,” jelas Aditya.

Pemerataan Melalui Festival

Penempatan Festival Pasar 1001 Malam dan Pameran 2000 UMKM di Bandar Sribhawono merupakan strategi pemerataan ekonomi yang cerdas.

Sebagai pusat perdagangan utama, wilayah ini siap menyerap energi ekonomi dari keramaian festival.

Langkah ini secara langsung membela nasib pedagang kecil, mulai dari penjual sosis bakar hingga penyedia jasa lainnya.

Menurut Aditya, kegiatan ini murni merupakan bentuk pemerataan ekonomi kerakyatan.

“Menggelar acara besar di sana berarti kita sedang menyuntikkan energi ekonomi ke pasar. Ini bukan pemborosan,” paparnya.

Sinergi Sukadana dan Sribhawono

Pemkab Lampung Timur membagi pusat kegiatan untuk menciptakan keadilan wilayah bagi masyarakat luas.

Sukadana tetap menjaga muruah sebagai ibu kota dengan fokus pada acara inti pemerintahan dan pelayanan kesehatan gratis.

Sementara itu, Sribhawono menjalankan peran sebagai motor penggerak transaksi keuangan warga.

“Sukadana menjadi pusat pelayanan dan pemerintahan, sementara Sribhawono menjadi pusat perputaran ekonomi rakyat. Keduanya berjalan beriringan,” tegas Aditya.

Dukungan untuk Pedagang Kecil

Aditya mengajak seluruh elemen masyarakat menyambut HUT ke-27 ini dengan semangat positif.

Festival ini memberikan panggung bagi para pedagang untuk bangkit dan ruang interaksi bagi masyarakat.

Dukungan penuh dari semua pihak akan memastikan perputaran uang benar-benar menyentuh lapisan masyarakat bawah.

“Pesta ini adalah pestanya rakyat. Pedagang kita sangat butuh panggung dan keramaian untuk bangkit kembali,” pungkas Aditya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *