Lampung » Literasi Digital Kunci Tekan Kekerasan Berbasis Gender Online

Literasi Digital Kunci Tekan Kekerasan Berbasis Gender Online

oleh
Literasi Digital Kunci Tekan Kekerasan Berbasis Gender Online
Forkom Puspa Lampung bekerja sama dengan HMPS Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah (UM)Lampung serta Satgas PPKPT UM Lampung menggelar diskusi publik bertajuk “Kekerasan Perempuan dalam Era Digital: Tidak Ada Ruang Aman Bagi Perempuan”, Bandar Lampung, Jumat (17/4/2026). Foto: Istimewa

DASWATI.ID – Forkom Puspa Lampung dan UM Lampung menggelar diskusi publik mencegah kekerasan seksual terhadap perempuan di lingkungan pendidikan dan ruang digital.

Forum Komunikasi Pusat Pembelajaran Keluarga (Forkom Puspa) Lampung menggandeng Universitas Muhammadiyah (UM) Lampung menggelar diskusi publik untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan di ranah digital.

Kegiatan bertajuk “Kekerasan Perempuan dalam Era Digital: Tidak Ada Ruang Aman Bagi Perempuan” ini berlangsung pada Jumat (17/4/2026) guna membangun kesadaran kolektif di lingkungan pendidikan.

Peningkatan kasus kekerasan seksual di dunia maya menuntut langkah nyata dalam melindungi kelompok rentan, terutama perempuan.

Ketua Bidang Media dan Publikasi Forkom Puspa Lampung, Jeni Rahmawati, menyebut diskusi ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif untuk memahami beragam bentuk kekerasan seksual yang kini kerap berpindah ke media digital.

Penguatan Literasi Digital

Ketua Forkom Puspa Lampung, Yuli Nugrahani, menegaskan bahwa literasi digital menjadi benteng utama dalam pencegahan kekerasan berbasis gender online.

Ia menilai penguatan peran keluarga dan edukasi berkelanjutan sangat mendesak untuk melindungi perempuan dari ancaman di ruang siber yang semakin kompleks.

Menurut Yuli, kolaborasi berbagai pihak sangat diperlukan karena perempuan sering menjadi target utama dalam eksploitasi digital.

“Perempuan kerap menjadi kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan serius dari berbagai pihak melalui edukasi dan peningkatan literasi digital,” ujar Yuli dalam keterangannya.

Ketimpangan Relasi Kuasa

Selain ancaman di dunia maya, kekerasan di lingkungan pendidikan juga menjadi perhatian serius bagi para aktivis perempuan.

Direktur DAMAR Lampung, Afrintina, menyoroti adanya relasi kuasa yang tidak seimbang sebagai pemicu utama kekerasan seksual di kampus.

Ia menekankan perlunya sistem perlindungan yang kuat agar korban memiliki keberanian untuk melaporkan kasus yang mereka alami.

Komitmen Ruang Aman

Merespons tantangan tersebut, UM Lampung telah membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKPT).

Ketua Satgas PPKPT UM Lampung, Sulastri, memastikan pihak kampus berkomitmen penuh menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari segala bentuk pelecehan seksual.

Sulastri mengajak seluruh civitas akademika untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas perlindungan yang tersedia di kampus.

“Kami sudah memiliki mekanisme perlindungan dan penanganan, sehingga mahasiswa tidak perlu takut untuk melapor jika mengalami atau mengetahui adanya kekerasan seksual,” tegas Sulastri.

Kolaborasi antara akademisi dan lembaga swadaya masyarakat ini diharapkan mampu menciptakan ruang aman yang nyata bagi perempuan, baik di lingkungan fisik maupun di dunia digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *