OPINI » Meneguhkan Khitah Perjuangan Alumni IMM

Meneguhkan Khitah Perjuangan Alumni IMM

oleh
Meneguhkan Khitah Perjuangan Alumni IMM
Pengukuhan pengurus FOKAL IMM Provinsi Lampung periode 2026-2031 di Ballroom Emersia Bandar Lampung, Rabu (15/4/2026). Foto: Josua Napitupulu

Oleh. Dr. Hasbullah, M.Pd.I

DASWATI.ID – FOKAL IMM memperkuat jaringan alumni sebagai mitra strategis IMM guna mendukung kaderisasi, menyediakan akses profesional, dan mendorong kemajuan bangsa.

Forum Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) berdiri bukan sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, melainkan sebagai wahana silaturahmi, konsolidasi, dan penguatan jaringan alumni yang pernah berkader di IMM.

Kehadirannya merupakan konsekuensi logis dari melimpahnya sumber daya manusia yang telah tuntas menempuh masa perkaderan formal namun tetap memiliki keterikatan ideologis dengan persyarikatan.

Dalam kapasitasnya, FOKAL IMM tidak dimaksudkan untuk menggantikan atau menyaingi posisi IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di ranah mahasiswa dan kader muda.

Justru, ia hadir sebagai mitra strategis yang mengiringi, menguatkan, dan melengkapi peran IMM di tengah dinamika gerakan Muhammadiyah dan tantangan bangsa yang kian kompleks.

Jembatan Kaderisasi dan Solidaritas Perjuangan

Mengingat arah FOKAL IMM berarti kembali pada esensi sebagai jembatan antara kader aktif IMM dengan generasi alumni yang telah malang-melintang di berbagai sektor profesi dan strata sosial.

Forum ini memiliki mandat moral untuk memelihara jejak intelektual, moral, dan spiritual yang pernah ditempa di IMM, lalu mengalirkannya kembali dalam bentuk pendampingan yang konstruktif.

Haedar Nashir, sering menekankan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada sistem kaderisasinya yang menyatu dengan sistem organisasi.

Dalam konteks ini, FOKAL IMM harus mampu memosisikan diri sebagai penyokong sistem tersebut tanpa mengganggu mekanisme internal organisasi otonom yang sudah mapan.

Sejalan dengan pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah mengenai konsep Asabiyyah atau solidaritas sosial, FOKAL IMM harus membangun ikatan yang didasarkan pada nilai-nilai kebenaran Islam (tauhid) dan tujuan bersama.

Solidaritas alumni tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu, melainkan harus bertransformasi menjadi kekuatan transformatif bagi masyarakat.

Tugas utama forum ini adalah melakukan transfer gagasan kepada organisasi induknya melalui dialog yang setara.

Namun, pengingatan ini juga krusial agar FOKAL IMM tidak melampaui batas tugas dan fungsi IMM sebagai organisasi otonom, tidak mengambil alih urusan internal IMM dan tidak mengintervensi kebijakan yang menjadi kedaulatan kader aktif.

Menjaga Etika Gerakan dan Otoritas Kaderisasi

Sebagai wahana alumni, FOKAL IMM seharusnya menjadi ruang yang sangat menghormati otoritas IMM.

Keberadaan alumni adalah untuk memberikan “panggung” bagi adik-adik mahasiswa, bukan justru mengambil alih panggung tersebut demi kepentingan politik praktis atau eksistensi personal yang semu.

Etika gerakan dalam Muhammadiyah mengajarkan bahwa setiap jenjang memiliki porsinya masing-masing.

Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii), semasa hidupnya sering mengingatkan bahwa intelektualisme harus dibarengi dengan kerendahan hati dan pemahaman akan posisi diri dalam struktur perjuangan.

FOKAL IMM harus menjaga jarak yang tepat, tidak terlalu jauh sehingga kehilangan daya dukung, namun tidak terlalu dekat sehingga mengimpit ruang gerak kreativitas kader IMM.

Intervensi yang berlebihan terhadap struktur internal IMM justru akan mematikan proses kedewasaan berorganisasi bagi para mahasiswa yang sedang belajar memimpin.

Cendekiawan Islam Fazlur Rahman menekankan pentingnya rekonstruksi pemikiran Islam yang dinamis.

Alumni IMM dalam wadah FOKAL harus menjadi motor penggerak rekonstruksi pemikiran ini, memberikan masukan-masukan berbasis riset dan pengalaman lapangan kepada IMM tanpa harus mendikte langkah taktis organisasi.

Dukungan Profesional dan Akses Jejaring

Tugas Forum Alumni bukanlah mengatur kader secara mikromanajemen atau mengendalikan struktur IMM melalui lobi-lobi di luar sistem.

Sebaliknya, alumni harus menyiapkan diri untuk menjadi “wadah pelengkap” yang menguatkan kaderisasi dengan cara menyediakan akses terhadap beasiswa, pelatihan profesional, dan jaringan kerja. Penguatan jejaring profesional adalah kunci.

Alumni yang sukses di birokrasi, akademisi, pengusaha, maupun politik, harus menjadi “payung” bagi kader IMM yang akan lulus, sehingga mata rantai perjuangan Muhammadiyah di berbagai sektor tidak terputus karena kurangnya dukungan akses.

Setiap langkah FOKAL IMM harus senantiasa menyelaraskan diri dengan garis besar kebijakan Muhammadiyah.

Hal ini penting agar tidak terjadi dualisme kepemimpinan atau kebingungan di tingkat akar rumput mengenai siapa yang memegang otoritas kebijakan dalam urusan kemahasiswaan.

Kematangan emosional dan intelektual alumni diuji dalam kemampuannya menahan diri untuk tidak “merasa lebih tahu” segalanya dibandingkan kader aktif.

Sikap wisdom atau kearifan ini adalah buah dari perkaderan IMM yang paripurna, di mana pemimpin mampu menjadi pengikut yang baik saat waktunya telah berganti.

Diaspora Alumni untuk Peradaban Bangsa

Arah masa depan FOKAL IMM adalah menjadi rumah bagi diaspora kader yang tersebar di seluruh pelosok negeri dan dunia.

Luasnya spektrum profesi alumni merupakan aset berharga yang jika dikelola dengan manajemen modern akan menjadi kekuatan dahsyat bagi dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Cendekiawan Muslim kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, sering menyinggung tentang pentingnya menjaga “sacred science” atau ilmu yang suci.

Bagi alumni IMM, ilmu pengetahuan yang mereka miliki di berbagai bidang harus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam yang mencerahkan, sesuai dengan identitas Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual.

Dengan demikian, FOKAL IMM menjadi katalisator bagi perluasan dampak keislaman dan kebangsaan melalui karya nyata.

Alumni tidak lagi hanya berbicara tentang struktur organisasi, tetapi mulai berbicara tentang kontribusi nyata dalam pengentasan kemiskinan, pelestarian lingkungan, dan keadilan hukum.

Mengingat arah FOKAL IMM adalah langkah konkret untuk menguatkan posisi IMM sebagai organisasi otonom yang tetap berdiri di garis depan perjuangan mahasiswa.

Alumni berperan sebagai suporter, mentor, dan pengisi masa depan gerakan yang lebih luas, memastikan bahwa nilai-nilai IMM tetap hidup dalam tiap tarikan napas pengabdian mereka.

Integritas Moral dan Sinergi Pencerahan

Alumni harus mampu menjadi teladan (uswah) bagi kader aktif. Jika alumni menunjukkan integritas moral di ruang publik, maka hal itu merupakan iklan terbaik bagi IMM.

Sebaliknya, perilaku alumni yang tidak sejalan dengan nilai persyarikatan akan menjadi beban moral bagi organisasi mahasiswa tersebut.

Pentingnya sinergi ini juga sejalan dengan konsep Tanwir (pencerahan) dalam Muhammadiyah. FOKAL IMM bertugas memancarkan cahaya pencerahan di sektor-sektor yang tidak terjangkau oleh mahasiswa, sementara IMM terus menjaga nyala api pergerakan di dalam kampus.

Kolaborasi antara energi muda IMM dan pengalaman matang FOKAL IMM akan menciptakan harmoni gerakan yang solid.

Tanpa keterlibatan alumni yang bijak, IMM mungkin akan kekurangan navigasi strategis; namun tanpa kemandirian IMM, FOKAL akan kehilangan akar dan regenerasi masa depan.

Ke depan, tantangan zaman menuntut FOKAL IMM untuk lebih adaptif terhadap teknologi dan perubahan geopolitik global.

Alumni harus mendorong IMM untuk tidak hanya menjadi organisasi massa, tetapi menjadi organisasi berbasis pengetahuan (knowledge-based organization) yang kompetitif di kancah internasional.

Penutup: Oase dan Markas Komando

Sebagai penutup, FOKAL IMM adalah oase silaturahmi yang penuh berkah.

Ia adalah tempat pulang bagi para pejuang yang rindu akan dialektika, namun ia juga merupakan markas komando untuk merumuskan langkah-langkah strategis bagi kejayaan Muhammadiyah dan martabat bangsa Indonesia.

Mari kita letakkan FOKAL IMM sebagai pendukung yang tangguh, penasihat yang bijak, dan mitra yang setia bagi IMM.

Dengan menjaga batas-batas wewenang, Fokal IMM justru sedang membangun fondasi yang kuat bagi tegaknya bangunan besar Muhammadiyah untuk masa depan yang lebih mencerahkan. (*)

*Dr. Hasbullah, M.Pd.I–Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu; Alumni Kader IMM UIN Raden Intan Lampung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *