Peristiwa » Berjuang dari Nol Bersama, Pedagang Sayur Sedih Naik Haji Tanpa Istri

Berjuang dari Nol Bersama, Pedagang Sayur Sedih Naik Haji Tanpa Istri

oleh
Berjuang dari Nol Bersama, Pedagang Sayur Sedih Naik Haji Tanpa Istri
Calon haji Adena Yusri seorang pedagang sayur keliling bersama istrinya Aljariya, saat ditemui di kediamannya, Dusun Merbau Pendek, Desa Karang Jaya, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan, Sabtu (25/4/2026). Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Adena Yusri menabung koin selama 20 tahun demi naik haji. Namun, pedagang sayur ini merasa sedih karena harus berangkat ke Tanah Suci tanpa membawa sang istri.

Palu keberangkatan haji bagi Adenah Yusri (54) sudah di depan mata.

Warga Dusun Merbau Pendek, Desa Karang Jaya, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan ini dijadwalkan memasuki Asrama Haji pada 5 Mei 2026 mendatang.

Namun, di balik senyum syukur pedagang sayur keliling ini, terselip duka mendalam karena ia harus berangkat tanpa didampingi istri tercintanya, Aljariya.

Enam Ember Koin Penantian

Perjalanan Adenah menuju Baitullah bukanlah jalan pintas.

Selama kurang lebih 20 tahun, ia dengan tekun menyisihkan uang receh hasil berjualan sayur keliling.

Setiap hari, sepulang dari berdagang sayur keliling, ia memasukkan koin pecahan Rp500 hingga Rp1.000 ke dalam wadah khusus hingga terkumpul enam ember.

Keuntungan dari berjualan sayur tidaklah besar, hanya berkisar Rp500 hingga Rp1.000 per ikat.

Tak jarang uang tersebut dipakai untuk bayar uang sekolah anak, atau kebutuhan mendesak lainnya.

Berjuang dari Nol Bersama, Pedagang Sayur Sedih Naik Haji Tanpa Istri
Adena Yusri menyisihkan uang recehan sebagian keuntungan dari hasil berjualan sayur keliling selama 20 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Dusun Merbau Pendek, Desa Karang Jaya, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan, Sabtu (25/4/2026). Foto: Josua Napitupulu

Namun, kedisiplinan Adena yang memulai hari sejak pukul 03.30 WIB untuk salat tahajud dan berangkat ke pasar setelah subuh membuahkan hasil.

Uang koin yang ia kumpulkan selama puluhan tahun itu akhirnya mencapai sekitar Rp35 juta, jumlah yang cukup untuk melunasi biaya haji.

“Kalau uang recehannya itu setiap hari. Setiap ada uang recehnya saya taruh semuanya yang di ember itu,” ujar Adena saat menceritakan perjuangannya, Sabtu (25/4/2026).

Pengorbanan dan Penyesalan

Drama bermula ketika Adena hendak mendaftarkan istrinya, Aljariya, untuk naik haji bareng.

Dahulu, mereka memulai hidup benar-benar dari nol, bahkan sempat bekerja menanam jagung dan singkong bersama di sawah.

“Saya dulu susah senang dari nol itu bersama-sama istri saya. Dari awal nanam-nanam jagung, nanam singkong, nanam-nanam padi di sawah bareng-bareng,” ujar Adena terisak sedih.

Sang istri, Aljariya, menambahkan dirinya yang mendesak suaminya untuk mendaftar haji terlebih dahulu.

“Saya merasa kasihan melihat suami saya sering terjatuh dari motor saat menjajakan sayur di jalanan rusak, apalagi saat hujan,” tutur Aljariya.

Adena sempat ragu akan saran istrinya karena ingin berangkat berdua.

Namun, informasi yang ia terima dari pihak departemen agama (Depag) saat itu menyatakan bahwa pendaftaran yang berbeda waktu tidak bisa berangkat bersamaan dalam satu keberangkatan (muhrim).

Berjuang dari Nol Bersama, Pedagang Sayur Sedih Naik Haji Tanpa Istri
Calon haji Adena Yusri, bersama istrinya Aljariya, saat ditemui di kediamannya, Dusun Merbau Pendek, Desa Karang Jaya, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan, Sabtu (25/4/2026). Foto: Josua Napitupulu

Kabar itu membuatnya putus asa dan tidak segera mendaftarkan sang istri.

Belakangan ia baru mengetahui adanya aturan penggabungan mahram, namun tabungan yang sempat disiapkan untuk istrinya telah terpakai untuk biaya pernikahan anak mereka sepekan yang lalu.

“Jadi keperluan untuk dia berangkat haji ini sudah kepakai untuk nikahin anak gitu,” kata Adena.

Harapan di Balik Doa

Kini, menjelang keberangkatannya, Adena mengaku sering teringat masa-masa sulit bersama istrinya.

Ia merasa tidak tega harus menikmati pemandangan Kakbah sendirian sementara belahan jiwanya tetap di rumah.

“Saya dulu susah senang bersama-sama istri saya dari nol. Kok ini aku berangkat sendirian, rasanya saya enggak tega,” ungkap Adena dengan nada sedih.

Meski hati terasa berat, Adena tetap memantapkan niat. Baginya, haji adalah soal panggilan Tuhan, bukan sekadar kemampuan harta.

Ia berharap perjalanannya ini menjadi pembuka jalan bagi istri, anak, dan cucu-cucunya untuk segera menyusul ke Tanah Suci di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *