DASWATI.ID – Pengemudi ojek online atau ojol pemilik akun aceng atau argo goceng di Bandar Lampung tetap memilih on bid demi menjaga kelangsungan pendapatan mereka.
Sebagian pengemudi ojol di Bandar Lampung memilih tetap mengaktifkan layanan aplikasi (on bid) saat Aksi 205 berlangsung pada Selasa (20/5/2025), meskipun banyak rekan mereka melakukan aksi off bid sebagai solidaritas dengan unjuk rasa di kantor pusat aplikasi di Jakarta.
Keputusan untuk tetap on bid, terutama di kalangan pemilik akun aceng (Go Food jarak dekat), dipicu oleh manfaat signifikan yang diberikan akun ini, meskipun menjadi poin tuntutan penghapusan oleh Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI).
Salah satu ketua komunitas pengemudi ojol di Bandar Lampung, Pendi (51) warga Enggal, menjelaskan bahwa sekitar 70% anggota komunitasnya memiliki akun aceng, yang membantu mereka mendapatkan orderan, terutama pada jam sibuk.
“Akun aceng ini sangat membantu. Sebelumnya, banyak akun pengemudi yang anyep (minim order). Sekarang, orderan lebih banyak,” ujar Pendi, yang juga menjadi promotor akun aceng di wilayahnya.
Akun ini memberikan insentif menarik, seperti Rp1.500 per order untuk minimal 14 orderan pada jam sibuk siang (11.00-15.00 WIB) dan Rp1.500 untuk 18 orderan atau Rp2.500 untuk 21 orderan pada jam sibuk malam (15.00-21.00 WIB).
Namun, tuntutan SPAI untuk menghapus akun aceng menjadi dilema bagi komunitas Pendi.
“Kalau kami ikut off bid, berarti mendukung penghapusan akun aceng. Ini bikin temen-temen keberatan karena akun ini jadi penyelamat orderan,” kata dia.
Ojol Akun Aceng Tetap On Bid
Meski mendukung tuntutan lain seperti penurunan potongan 20%, kenaikan tarif, dan regulasi pengantaran makanan, banyak pengemudi ojol dengan akun aceng memilih tetap on bid untuk menjaga pendapatan mereka.
Pendi menambahkan, kuota akun aceng terbatas, dengan kantor pusat hanya menyediakan slot untuk 100 orang per area setiap hari, seperti di Bandar Lampung (Balam) Utara, Balam Selatan, Balam Timur, KOPI-RI (Komunitas Ojek Pizza Hut Indonesia-Raden Intan), dan Tanjungsenang.
Pendi juga menyoroti kurangnya transparansi terkait potongan 20% yang diterapkan Gojek, yang sudah ada sejak awal.
Potongan ini terpisah dari biaya konsumen seperti biaya aplikasi (Rp4.500), asuransi pengiriman (Rp1.000), dan Go Green (Rp2.000).
“Pengemudi kadang tidak tahu detail biaya ini, jadi terkesan potongannya besar. Padahal kami hanya dapat ongkos kirim setelah dipotong 20%,” jelas dia.
Meski begitu, potongan 20% tersebut memiliki manfaat, seperti untuk klaim order fiktif, dimana 10% potongan digunakan untuk keperluan tersebut.
Meskipun aksi off bid merupakan bentuk solidaritas, Pendi menegaskan komunitasnya tidak memaksa anggota untuk ikut.
“Yang mau off bid silakan, yang on bid juga boleh. Solidaritas tetap ada,” ujar dia.
Ia berharap Gojek lebih bijak menanggapi tuntutan pengemudi, terutama untuk pengemudi lama seperti dirinya yang merasakan penurunan kesejahteraan sejak bonus dihapus.
“Dulu kami bisa beli motor, sekarang agak sulit,” keluh Pendi.
Baca Juga: Ojol Bandar Lampung Dukung Aksi 205, Aplikasi Off Mulai Pukul 10.00 WIB

