DASWATI.ID – Puisi-puisi karya Mahendra Utama menghadirkan ragam tema dan nuansa yang kaya, mengajak pembaca menyelami perjalanan batin, sejarah, hingga harapan masa depan bangsa dan individu.
Sebagai Eksponen ‘98, Mahendra membuktikan bahwa jiwa pejuang tak hanya berteriak dalam aksi, tetapi juga bersuara lewat keindahan sastra yang menggugah kesadaran dan hati pembaca.
Setiap karya menawarkan keunikan dalam diksi, gaya bahasa, dan imaji yang membangun pengalaman membaca yang mendalam dan berkesan.
Misalnya puisi berjudul “Hanya Lelah Tiada Bertepi” menggambarkan pergulatan batin yang intens, kelelahan fisik dan emosional dalam perjalanan hidup yang penuh luka dan kekecewaan.
Diksi yang puitis dan metaforis seperti “debunya keyakinan yang pecah” menyampaikan rasa putus asa sekaligus keteguhan untuk terus melangkah.
Nada melankolis dan imaji alam yang kuat membuat pembaca merasakan kedalaman kelelahan sekaligus harapan yang tersisa.
Berbeda dengan itu, “Selat Sunda: Perahu Kertas Negeri” menampilkan tema persatuan dan perjalanan, dengan gambaran alam dan kapal feri yang menjadi simbol penghubung antar pulau.
Gaya bahasa yang metaforis dan imaji laut serta gunung menciptakan suasana optimis dan penuh harapan, mengajak pembaca merasakan kebanggaan akan kekayaan dan kekuatan Nusantara.
Puisi “Sang Pelita Lampung: Untuk Iyai Mirza” adalah penghormatan pada sosok pemimpin yang berdedikasi.
Diksi formal dan simbolik menegaskan peran kepemimpinan yang membawa kemajuan dan harapan.
Nada optimis dan penuh semangat juang menginspirasi pembaca untuk menghargai dan meneladani pengabdian tanpa pamrih.
Sementara itu, “Untuk Faisol Riza: Lanskap Perjuangan” mengangkat tema perjuangan politik dan sosial dengan nada heroik dan penuh semangat.
Metafora “puing yang bangkit jadi mercusuar” menggambarkan transformasi dari korban menjadi pemimpin yang berkomitmen. Puisi ini memberi inspirasi kuat bagi pembaca untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan keadilan.
Dalam “Jembatan Sakura dan Nusantara”, Mahendra Utama memadukan budaya dan teknologi sebagai simbol diplomasi dan persahabatan Indonesia-Jepang.
Imaji budaya yang kaya dan gaya bahasa metaforis menciptakan suasana optimis dan penuh harapan akan masa depan yang bersatu dan harmonis. Puisi ini menumbuhkan rasa kebanggaan dan semangat kemitraan internasional.
Puisi “Bondowoso dan Kawah Ijen” membawa pembaca ke dalam keindahan alam dan hubungan spiritual manusia dengan bumi.
Diksi alami dan imaji visual yang kuat menciptakan suasana tenang dan reflektif, mengajak pembaca menghargai dan menjaga alam sebagai warisan abadi.
Terakhir, “Surabaya dan Tunjungan Plaza” menggabungkan sejarah perjuangan dan kehidupan modern dengan nada penuh semangat dan bangga.
Imaji kota yang hidup dan perpaduan masa lalu dan kini membangkitkan rasa cinta dan optimisme terhadap kemajuan dan identitas kota pahlawan.
Secara keseluruhan, puisi-puisi Mahendra Utama mampu menggugah emosi dan inspirasi pembaca, menjadikan setiap karya sebagai refleksi dan motivasi dalam menghadapi kehidupan dan membangun masa depan.
Beberapa puisi karya Mahendra Utama:
HANYA LELAH TIADA BERTEPI
Karya: Mahendra Utama
Akhir dua tahun menggelinding sunyi,
wajah-wajah pun retak dalam bayang.
Kita memilih, diam membatu, tanpa kira.
Di selatan, Papuma menggenggam erat keputusanku,
gelombangnya mengikis sisa harap;
pasirnya basah oleh air mata yang tak tumpah.
Argopuro menjulang, dinginnya menusuk tulang
kudaki tanpa pelana,
kaki terkoyak ilalang Bondowoso yang tajam.
Ingat, Agustus 2023?
Kekecewaan mengendap jadi debu…
Desah… desah…
kisah tercekat di kerongkongan.
Hamparan ilalang Bondowoso tak peduli:
Angin menerbangkan duka,
tapi ia hanya diam, membisu dalam kemarau panjang.
Siapa cipta kekeringan jiwa ini?
Siapa hujani hidup dengan derai tak henti?
Dalam senyap… cuma desis cerutu Jember yang menemani,
Asapnya menari-nari, mengubur logika.
Keakuan luruh, runtuh tanpa sisa.
Akademik?
Reruntuhan di tengah savana pikiran.
Seperti pandemi…
Mati rasa.
Mati raga.
Mati langkah.
Bondowoso-Jember-Sidoarjo:
270 km kusuruk dalam satu malam.
Jalan berliku, aspal retak,
mata perih oleh kabut dan lampu jauh.
Beban roda adalah beban hati
Setiap kilometer menggerus sisa tenaga.
Terima kasih untuk semua lara.
Kau yang merajut, kau pula yang mengoyak…
Aku debu
Debu dari keyakinan yang pecah.
Bondowoso, Jember, Sidoarjo…
15 hingga 19 Mei 2025:
Empat roda berpacu mengalahkan waktu,
Tubuh bergetar, jiwa terhempas di jok besi.
Tuhan…
Reputasiku luluh jadi corengan aib
Di Mitratani Dua Tujuh.
— debu itu kini tenggelam dalam air yang tak bergerak —
(Danau Sunter, Jakarta 20 Mei 2025)
__________________________________________________
SELAT SUNDA: PERAHU KERTAS NEGERI
Karya: Mahendra Utama
Di hampar biru, Krakatau berdiri gagah,
Menyemburkan dongeng purba dalam senyap nan megah.
Gunung api eksotis, penjaga samudra lebar,
Puncaknya berkabut, memantulkan cah’ya mentari pagi nan hangat.
Dari Bakauheni, sang ferry membelah ombak,
Mengangkut harapan, impian, juga beban berat berderap.
Di pelabuhan ia berlabuh, lalu kembali mengarungi,
Membelah selat perkasa yang tak pernah sunyi.
Di tepian Sumatera, Rajabasa tegak memandang,
Mendekap cakrawala dengan sabarnya, tenang.
Pepohonan hijau, lerengnya yang menjulang,
Menjadi latar perjalanan, setia menemani pulang.
ASDP, tangan negara yang setia mengayun,
Tulang punggung penghubung, sejak pagi hingga petang membubung.
Dari Jawa ke Sumatera, dari Merak ke Bakauheni,
Mengalirkan denyut nadi, jalin Nusantara sepenuh hati.
Di geladak kapal, angin laut berdesir kisah,
Membelai wajah-wajah yang rindu bersua.
Hingga Merak menampak, pelabuhan Banten yang ramai,
Perjalanan usai sudah, namun kenangan abadi teranyam.
Krakatau di kejauhan, saksi bisu yang abadi,
Selat Sunda mengalun, mengukir sejarah tanpa henti.
Di atas kapal ferry, Nusantara menyatu,
Dalam debur ombak dan langit yang membiru.
(Pelabuhan Bakauheni, 16 September 2024)
__________________________________________________
SANG PELITA LAMPUNG: UNTUK IYAI MIRZA
Karya: Mahendra Utama
Di persada Krakatau yang bergemuruh kala,
Bersinar nama-Mu, laksana fajar di ranah raya.
Iyai Mirza—kau pengusaha, atlet, ulama berkarya,
Di hatimu, Lampung berdegup, menggapai asa.
Dari HIPMI ke golf, softball ke Majelis Tablig,
Kaki menginjak bumi, jiwa menyentuh langit.
Delapan puluh dua persen suara adalah seruan rakyat yang sahih:
“Percayakan harapan pada tangan yang jujur nan bijak ini!”
Gerindra pun berlabuh di kapal kepemimpinanmu,
Prabowo tersenyum: Lampung maju di gagasanmu.
Kau satukan pelabuhan, sawah, dan senyum anak-anakku,
Membangun negeri bertuah, dari Sabang hingga Kelawai.
Wahai Gubernur, sanggahmu tegak bak gigir pegunungan,
Mengalirkan keringat, mengubah air mata jadi semangat juang.
Kau tak hanya pucuk pimpinan, tapi sauh di tengah badai,
Pelita yang tak padam, menyulut jalan menuju gemilang.
Di tanganmu, Lampung bukan sekadar cerita,
Tapi nyanyian kemajuan yang menggema di nusantara.
Teruslah melangkah, Iyai Mirza—pahlawan tanpa senjata,
Karena di ujung kerja keras, sejarah akan berbisik:
“Di sini pernah hidup sang pemimpin sejati, pengabdi tanpa batas.”
(Lampung, 2025-2030: Sebuah Zaman Baru. Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, 15.00-17.10 WIB, 25 Mei 2025)
__________________________________________________
UNTUK FAISOL RIZA: LANSKAP PERJUANGAN
Karya: Mahendra Utama
Di antara kitab-kitab yang bertaut waktu,
kau tumbuh dari akar Nahdlatul Ulama:
Kraksaan dan Paiton mencatat langkahmu,
sebelum filsafat mengasah kata,
sebelum administrasi merajut data.
1998, angin reformasi mengganas—
suaramu menggema di lorong gelap rezim.
SMID adalah panggung, darah muda dikobarkan,
sampai malam itu…
Badanmu diculik, tapi jiwa tetap membara.
Kau dikembalikan, bukan sebagai korban,
melainkan puing yang bangkit jadi mercusuar.
Di puncak tebing, kau ukir nama
sebagai pengawal keringat dan karamah;
di kursi parlemen, kau tegakkan komitmen:
dari Probolinggo hingga Jambi,
Suara rakyat kau pahat di nisan kebijakan.
Kau tak hanya milenial yang menari di gelanggang,
tapi filsuf yang menanam benih di tanah retak.
Faisol Riza—
jejakmu adalah hujan yang merawat sumur-sumur tua,
Pejuang yang tak pernah selesai bergerak:
dari pesantren ke gedung DPR,
hingga Wakil Menteri Perindustrian Indonesia.
Dari hilang menjadi abadi.
Selamat datang di setiap zaman yang memanggil,
di mana keadilan masih menunggu pijar.
(Amalia Hotel, Bandar Lampung, 27 Mei 2025)
__________________________________________________
JEMBATAN SAKURA DAN NUSANTARA
Karya: Mahendra Utama
Di antara kelopak sakura yang mekar bersemi,
Kupijakkan tekad membawa namamu, Ibu Pertiwi.
Bukan sekadar titah, tapi rindu yang membara—
Merajut Nusantara-Jepang dalam gegap gempita karya.
Batik bertutur dengan kimono nan anggun,
Bahasa rupa mengukir dialog tanpa jeda.
Di sini, teknologi berpadu kearifan samurai,
Kita tulis masa depan di kanvas samudra raya.
Terkadang badai skeptis mencoba menghempas,
Tapi komodo tak gentar—ia tetap melangkah pasti.
Seribu Hiroshima bangkit dari debu kelam,
Indonesia-Jepang: kita saudara penakluk rintangan.
Di meja diplomasi, kupersembahkan kopi dan matcha,
Merangkai kemitraan di antara dentang gamelan dan koto.
Bukan hanya bisnis, tapi hati yang berpadu—
Menanam benih SDG’s di bumi yang sama-sama kita cinta.
Esok, bila Fuji dan Rinjani saling membisikkan awan,
Akan kusampaikan kabar: “Mereka telah bertaut tangan.”
Duta bukanlah singgasana, tapi pengabdian tanpa henti—
Untuk Indonesiaku, untuk dunia yang lebih bersinar abadi.
Apabila amanah ini sampai…
Akan aku genggam erat-erat, di dalam lubuk hati sang dwi warna.
Semoga Allah berkahi langkah ini,
Semoga Ibu pertiwi tersenyum…
Inilah goresan pena anak kampung yang bermimpi, untuk kejayaan Indonesia di Negeri Sakura.
(Shinagawa, Tokyo, 21 Maret 2025)
__________________________________________________
BONDOWOSO DAN KAWAH IJEN
Karya: Mahendra Utama
Di puncak senja, kabut menari,
Kawah Ijen berbisik rahasia purba.
Api biru menyala di kegelapan malam,
Seperti permata yang terjaga oleh waktu.
Bondowoso, tanah legenda yang teguh,
Menyimpan kisah di balik bukit hijau.
Batu-batu tua berselimut lumut,
Mengangguk pada langit yang abadi.
Asap belerang menari pilu,
Mengukir jejak para penambang sunyi.
Keringat mereka mengalir ke danau asam,
Menjadi cerita yang tak tercatat oleh bulan.
Kawah Ijen memeluk kabut pagi,
Mencerminkan biru yang menyala-nyala.
Bondowoso, engkau adalah saksi bisu—
Persahabatan antara bumi dan jiwa yang tak kenal lelah.
Di sini, api dan air berdamai,
Menjadi puisi yang tak tertulis di peta.
Keduanya abadi: gunung dan manusia,
Merajut sejarah dalam diam yang bergema.
Aku datang Bondowoso, akan ku hirup sukma segar dari dadamu.
Putra Sumatera damba sejuk damai mistik Kawah Ijen agar tidur pulas dalam pelukanmu
Biar sendiri Aku datang tanpa raga, hanya sukma yang terbang riang gembira bercengkrama dengan aroma belerang bercitra Dewa Wisnu
(Ijen View Bondowoso, 16 Mei 2025, 01.25 WIB)
__________________________________________________
SURABAYA DAN TUNJUNGAN PLAZA
Karya: Mahendra Utama
Di timur Jawa, kota pahlawan berdiri,
Surabaya gagah, penuh cerita nan abadi.
Dahulu darah pejuang basahi bumi,
Kini semangatnya hidup di hati sanubari.
Tunjungan Plaza megah di pusat kota,
Gemerlap lampu menyambut siang dan malam.
Dari dagang rempah hingga mode terkini,
Sejarah dan modern bersatu berpadu harmoni.
Sungai Kalimas mengalir bisu berbisik,
Mengenang jasa prajurit di medan perang.
Tugu Pahlawan menjulang bagai saksi,
“Merdeka!” teriakkan, tak lekang oleh zaman.
Mall dan pasar ramai, pemuda berseliweran,
Kopi dan kuliner menggoda selera tiap masa.
Surabaya tak hanya tentang kenangan,
Tapi juga denyut hidup yang tiada henti bergema.
(Tunjungan Plaza, Surabaya 19 Mei 2025, 11.06 WIB)
__________________________________________________
Profil Mahendra Utama
Eksponen Aktivis 98, Mahendra Utama, lahir di Bandar Lampung pada tanggal 12 Desember 1974.
Saat ini ia menduduki beberapa posisi strategis, antara lain sebagai Pendiri PT KSWD Lampung, Pendiri PT SLDU Lampung, Komisaris Utama PT DMKB Sumatera Utara, dan CEO PT Solusi Aksara Graphics Unggul.
Selain itu, ia juga memiliki pengalaman karier profesional lainnya seperti Konsultan Media Massa, Tenaga Ahli Gubernur Lampung bidang Hukum & Pemerintahan, Sekretaris Khusus Gubernur Lampung, serta fasilitator di berbagai bidang.
Ia diangkat sebagai Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh sejak tanggal 5 Juli 2023 berdasarkan Surat Keputusan nomor XX-SURKP/23.036 dan 004/DE-KML/VII/23. Pendidikan terakhirnya adalah Sarjana Hukum dari Universitas Tulang Bawang, Lampung.
Baca Juga: Tiongkok akan Luncurkan Satelit Lampung-1

