DASWATI.ID – Pelajaran sejarah di sekolah sering kali terjebak dalam labirin hafalan angka dan tahun tanpa makna.
Mendobrak kebiasaan tersebut, Suparman Arif memperkenalkan Model Pembelajaran Transformatif-Historical Consciousness (Trans-His) sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan kemampuan verstehen (pemahaman mendalam) siswa SMA.
Kehadiran model pembelajaran sejarah transformatif ini dirancang untuk mengubah wajah pendidikan sejarah menjadi lebih reflektif dan kontekstual bagi para pelajar.
Dalam ujian promosi doktor di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) pada Jumat (13/2/2026), Suparman sukses mempertahankan disertasinya.
Penelitian ini lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya kemampuan siswa dalam memaknai peristiwa sejarah, yang selama ini masih didominasi oleh metode hafalan kronologis semata.
Lima Langkah Menuju Kesadaran Historis
Model Trans-His yang dikembangkan Suparman mengintegrasikan pembelajaran transformatif dengan kesadaran historis melalui lima sintaks utama:
- Activating event: Peristiwa pemicu (atau kejadian yang mengaktifkan);
- Identifying current assumptions: Mengidentifikasi asumsi saat ini;
- Encouraging critical self-reflection: Mendorong refleksi diri secara kritis;
- Encouraging critical discourse: Mendorong diskursus (ruang diskusi) kritis;
- Opportunity to test new paradigm/perspective: Kesempatan untuk menguji paradigma atau perspektif baru.
Data penelitian menunjukkan hasil yang solid dengan validitas isi sebesar 92,35% dan validitas konstruksi 92%, yang secara signifikan efektif meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami makna sejarah secara mendalam.
Tantangan Kompetensi Guru dan Refleksi Kritis
Kehadiran Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., sebagai penguji eksternal memberikan bobot tersendiri pada temuan ini.
Prof. Nunuk menekankan bahwa pembenahan metode pembelajaran harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidik.
“Rendahnya hasil belajar siswa tidak hanya terkait metode pembelajaran, tetapi juga kompetensi guru yang secara nasional masih perlu ditingkatkan,” tegas Prof. Nunuk.
Ia mendorong agar penelitian ini ditindaklanjuti dengan penguatan kapasitas guru, terutama dalam pengembangan bahan ajar dan soal-soal berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).
Capaian akademik ini mempertegas kontribusi Unila dalam melahirkan gagasan inovatif yang mendukung kebijakan nasional, khususnya dalam literasi sejarah dan transformasi pembelajaran berbasis refleksi kritis.
Model Trans-His kini diharapkan menjadi rujukan bagi pendidik dan pengambil kebijakan untuk menghadirkan pembelajaran sejarah yang bermakna, sesuai dengan tuntutan abad ke-21.
Baca Juga: Riset Dr. Ukhti Ciptawaty: Bansos Perlu Pendekatan Berbasis Wilayah

