DASWATI.ID – Penurunan harga kopi dan cabai menekan Nilai Tukar Petani Lampung April 2026 ke 123,93, walau sektor pangan dan peternakan tetap menunjukkan ketahanan yang positif.
DALAM ARTIKEL:
Kesejahteraan petani di Provinsi Lampung menghadapi tantangan berat pada awal kuartal kedua tahun 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) periode April 2026 merosot sebesar 0,80 persen menjadi 123,93 dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan ini mencerminkan situasi sulit di mana harga jual hasil panen melemah, sementara biaya konsumsi dan produksi justru melonjak.
Ketimpangan Harga Jual dan Beli
Melemahnya NTP Lampung dipicu oleh penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang jatuh ke level 158,48.
Di saat yang sama, beban petani bertambah karena Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik menjadi 127,88.
Komoditas utama seperti cabai merah, kopi, dan udang payau menjadi penyebab utama anjloknya pendapatan petani.
Sebaliknya, pengeluaran petani membengkak akibat kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan energi.
Minyak goreng, bensin, bawang merah, dan gula pasir tercatat sebagai komoditas yang paling membebani daya beli rumah tangga petani di pedesaan.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel AP, menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan adanya tekanan pada margin keuntungan petani.
“NTP merupakan indikator yang membandingkan indeks harga yang diterima petani atas hasil produksinya dengan indeks harga yang dibayar petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun biaya produksi,” jelas dia, Selasa (5/5/2026).
Hortikultura Paling Terdampak
Jika ditinjau per subsektor, hortikultura mengalami pukulan paling telak dengan penurunan NTP mencapai 5,25 persen.
Sektor tanaman perkebunan rakyat menyusul dengan penurunan 1,69 persen, sementara sektor perikanan budidaya juga terkoreksi sebesar 1,55 persen.
Kondisi ini memaksa para petani di sektor-sektor tersebut untuk memutar otak lebih keras demi menutupi biaya operasional yang terus merangkak naik.
Resiliensi Sektor Pangan

Meski sebagian besar sektor mengalami tekanan, optimisme masih terlihat pada beberapa subsektor lainnya.
Subsektor tanaman pangan berhasil tumbuh 0,68 persen, diikuti subsektor peternakan yang naik 0,70 persen, dan perikanan tangkap dengan kenaikan tipis 0,23 persen.
Pertumbuhan positif di sektor pangan dan peternakan ini menunjukkan adanya daya tahan atau resiliensi petani Lampung di tengah fluktuasi harga pasar yang dinamis.
Ketahanan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi perdesaan Lampung meskipun subsektor hortikultura dan perkebunan rakyat masih dibayangi ketidakpastian harga komoditas global dan kenaikan biaya hidup.



