DASWATI.ID – Penurunan tajam impor pupuk di Lampung menjadi sinyal kuat perlambatan agribisnis di tengah pencapaian surplus neraca perdagangan sebesar US$263,20 juta.
Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada Maret 2026 menunjukkan anomali yang mengkhawatirkan bagi sektor riil.
Meski mencatatkan surplus sebesar US$263,20 juta, penurunan tajam pada impor komoditas pendukung produksi seperti pupuk menjadi sinyal kuat terjadinya perlambatan sektor agribisnis di masa mendatang.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, nilai impor pada Maret 2026 hanya mencapai US$125,21 juta, atau terkontraksi 24,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara kumulatif, penurunan impor sepanjang Januari hingga Maret 2026 bahkan lebih drastis, yakni merosot hingga 54,00 persen menjadi US$316,86 juta.
Input Produksi Merosot
Penurunan impor ini paling terasa pada komoditas vital pertanian dan peternakan.
Pupuk hanya mencatatkan nilai impor sebesar US$43,53 juta dengan pangsa 13,74 persen, sementara ampas serta sisa industri makanan yang umum digunakan untuk pakan ternak tercatat senilai US$49,37 juta atau 15,58 persen.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi keberlanjutan produktivitas domestik.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel AP, menyatakan bahwa dinamika angka tersebut mencerminkan adanya pelemahan aktivitas perdagangan di Bumi Ruwa Jurai.
“Nilai surplus US$263,20 juta ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya maupun dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2025, yang mencerminkan adanya perlambatan kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada periode tersebut,” ujar dia dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).

Ketergantungan Ekspor Primer
Di sisi hilir, performa ekspor Lampung juga mengalami tekanan hebat. Nilai ekspor Maret 2026 sebesar US$388,42 juta mengalami penurunan tahunan sebesar 32,81 persen.
Struktur ekspor pun masih terjebak pada ketergantungan komoditas primer, di mana kelompok lemak dan minyak hewan/nabati mendominasi hingga 47,70 persen dari total nilai ekspor atau setara US$658,69 juta.
Meskipun permintaan dari Amerika Serikat dan Tiongkok masih mendominasi pasar dengan kontribusi masing-masing 15,16 persen dan 14,10 persen, ketergantungan ini membuat ekonomi Lampung sangat rentan terhadap gejolak global.
Amerika Serikat juga menjadi pemasok impor terbesar (29,67 persen), namun didominasi oleh komoditas kereta api dan trem, bukan bahan baku produksi agribisnis.
Efisiensi Jalur Logistik

Di tengah kelesuan ini, infrastruktur pelabuhan lokal masih memegang peran sentral dalam menggerakkan arus barang.
Sebanyak 83,38 persen atau senilai US$1.151,43 juta dari total ekspor kumulatif Lampung dikirim melalui pelabuhan di wilayah sendiri. Sisanya, sebesar 16,62 persen, masih harus melalui pelabuhan di luar Lampung.
Ke depan, tantangan besar menanti pemerintah daerah untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Penurunan impor bahan baku yang sangat dalam ini dikhawatirkan akan memicu penurunan output pertanian dan industri pengolahan pada kuartal berikutnya, sehingga diperlukan strategi hilirisasi yang lebih konkret agar Lampung tidak hanya bergantung pada harga komoditas mentah di pasar dunia.



