Ekonomi » Lampung Masuk Fase Penuaan Penduduk: Tantangan Produktivitas Ekonomi

Lampung Masuk Fase Penuaan Penduduk: Tantangan Produktivitas Ekonomi

oleh
BPS Ajak Jurnalis Tingkatkan Literasi Statistik Sukseskan SE2026
Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution. Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Lampung memasuki fase penuaan penduduk seiring lonjakan lansia ke 11,39%. Fenomena ini menantang produktivitas ekonomi meski pertumbuhan daerah mencapai 5,58%.

Provinsi Lampung resmi memasuki fase penuaan penduduk (ageing population) di tengah catatan pertumbuhan ekonomi yang positif pada awal tahun 2026.

Pergeseran struktur demografi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera memperkuat kualitas tenaga kerja guna menjaga kesinambungan produktivitas ekonomi di masa depan.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, jumlah penduduk Lampung mencapai 9,53 juta jiwa.

Meski secara total meningkat, laju pertumbuhan penduduk melambat menjadi 1,18 persen per tahun dalam lima tahun terakhir.

Fenomena yang paling menonjol adalah lonjakan proporsi penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) yang kini menyentuh angka 11,39 persen.

Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmad Riswan Nasution, mengatakan angka tersebut telah melampaui ambang batas struktur penduduk tua sebesar 10 persen.

“Struktur penduduk Lampung mulai mengalami pergeseran ke arah populasi yang menua,” ujar Ahmad Riswan dalam rilis resminya di Bandar Lampung, Rabu (6/5/2026).

Beban Ketergantungan Meningkat

Perubahan struktur ini berdampak langsung pada rasio ketergantungan wilayah. Data SUPAS 2025 mencatat rasio ketergantungan Lampung berada di angka 46,79.

Hal ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung beban ekonomi sekitar 46 hingga 47 penduduk usia nonproduktif.

Angka ketergantungan ini merangkak naik jika dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk 2020 yang sebesar 45,87.

Ahmad Riswan memperingatkan bahwa tren ini membawa tekanan nyata bagi kelompok usia kerja.

“Peningkatan rasio ketergantungan ini menunjukkan adanya tekanan yang mulai meningkat terhadap penduduk usia produktif, terutama seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia,” tambah dia.

Kondisi ini menjadi paradoks mengingat Lampung saat ini masih menikmati sisa bonus demografi dengan proporsi penduduk usia produktif (15–64 tahun) mencapai 68,13 persen.

Namun, Ahmad Riswan menekankan bahwa proporsi tersebut mulai menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode sebelumnya, sementara proporsi lansia terus mendaki.

Pertumbuhan Ekonomi yang Kontras

Di sisi lain, potret makroekonomi Lampung saat ini sedang dalam performa terbaiknya. Pada triwulan I-2026, ekonomi Lampung tumbuh 5,58 persen secara tahunan (year-on-year).

Capaian ini merupakan pertumbuhan triwulan pertama tertinggi sejak tahun 2014 dan menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di seluruh Pulau Sumatra.

Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung atas dasar harga berlaku mencapai Rp132,36 triliun.

Lampung Masuk Fase Penuaan Penduduk: Tantangan Produktivitas Ekonomi
Sumber Data: BPS Provinsi Lampung

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi 25,58 persen terhadap ekonomi daerah.

“Perekonomian Provinsi Lampung pada Triwulan I-2026 menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan pertumbuhan yang tinggi. Sumber pertumbuhan dari sisi produksi didorong oleh sektor akomodasi dan makan minum,” jelas Ahmad Riswan.

Kualitas Tenaga Kerja Menjadi Kunci

Tantangan produktivitas di masa depan semakin nyata jika melihat profil kualitas sumber daya manusia saat ini.

Dari total 4,91 juta orang yang bekerja di Lampung, mayoritas atau sekitar 36,46 persen masih berpendidikan SD ke bawah. Hanya 8,90 persen tenaga kerja yang memiliki latar belakang pendidikan Diploma ke atas.

Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Lampung berhasil ditekan hingga ke angka 3,95 persen pada Februari 2026, tantangan penuaan populasi menuntut transformasi kualitas pekerja yang lebih cepat.

Ahmad Riswan menekankan pentingnya respons kebijakan yang lincah menghadapi dinamika kependudukan ini.

“Hasil SUPAS 2025 memberikan gambaran tantangan ke depan, terutama menghadapi perlambatan pertumbuhan penduduk dan peningkatan lansia. Diperlukan kebijakan yang adaptif dan responsif dalam bidang ketenagakerjaan, pendidikan, dan kesehatan,” tegas dia.

Ia menambahkan bahwa optimalisasi penduduk usia muda yang saat ini masih mendominasi, sekitar 69,81 persen gabungan Gen Z, Milenial, dan Post Gen Z, harus dilakukan melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Strategi ini penting agar fase penuaan penduduk tidak menggerus momentum pertumbuhan ekonomi yang saat ini sedang kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *