Bandar Lampung » Bantuan Tak Pas Sasaran: Gerobak Mewah untuk Rumah Listrik 450 VA

Bantuan Tak Pas Sasaran: Gerobak Mewah untuk Rumah Listrik 450 VA

oleh
Bantuan Tak Pas Sasaran: Gerobak Mewah untuk Rumah Listrik 450 VA
Gerobak UMKM bantuan Pemkot Bandar Lampung, Rabu (15/4/2026). Foto: Josua Napitupulu

DASWATI.ID – Pemkot Bandar Lampung membelanjakan Rp2,8 M untuk 100 gerobak listrik pada 2025, namun spesifikasinya menyulitkan warga karena tak sesuai kondisi ekonomi mereka.

Pemerintah Kota (Pemkot) melalui Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandar Lampung kembali mengucurkan dana fantastis senilai Rp2,9 miliar untuk pengadaan gerobak motor listrik pada tahun 2026.

Namun, alokasi anggaran ini memicu keraguan publik karena tidak merinci jumlah unit, spesifikasi teknis, maupun skema distribusinya dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

Ketiadaan detail tersebut membuat masyarakat sulit mengukur kewajaran harga dan efektivitas bantuan bagi para pelaku usaha.

Anggaran Fantastis yang Berulang

Ketidakjelasan rencana anggaran tahun 2026 ini seolah mengulang persoalan pada tahun sebelumnya.

Pada tahun 2025, dinas terkait membelanjakan Rp2,8 miliar untuk 100 unit gerobak motor listrik, yang berarti harga per unitnya mencapai Rp28 juta.

Meski terlihat mewah, bantuan ini justru menyulitkan warga karena spesifikasinya tidak sesuai dengan kondisi ekonomi penerima.

Dilema Gerobak Listrik dan Mejikom

Masalah utama muncul saat penerima bantuan harus mengisi daya baterai gerobak di rumah mereka yang rata-rata berdaya rendah.

Pengisian daya membutuhkan waktu sekitar 6 jam dengan input 180W. Kondisi ini memaksa warga mengatur waktu dengan ketat agar listrik rumah tidak padam.

“Kalau lagi ngecas gerobak, saya nggak bisa sambil nyalain mejikom buat masak nasi, soalnya listriknya nggak kuat kalau dipakai berbarengan,” ujar salah seorang penerima bantuan yang rumahnya hanya memiliki daya 450 VA, Rabu (15/4/2026).

Kendala Teknis dan Keamanan

Bantuan Tak Pas Sasaran: Gerobak Mewah untuk Rumah Listrik 450 VA
Pengisian daya membutuhkan waktu sekitar 6 jam dengan input 180W. Foto: Josua Napitupulu

Selain masalah kelistrikan, gerobak ini memiliki masalah stabilitas yang membahayakan pengemudi.

Pria paruh baya itu menuturkan banyak rekan-rekannya mengeluhkan setiran kendaraan yang terasa berat dan cenderung miring ke kanan.

Kerusakan keseimbangan ini bahkan sempat membuat beberapa orang terjungkal saat pertama kali mencoba mengendarainya.

“Mesin gerobak juga terasa kurang tenaga saat harus melewati jalan tanjakan atau flyover (jalan layang),” tambah dia.

Dari hasil pantauan, sistem daya 48V yang digunakan memang cukup untuk medan datar, namun akan bekerja sangat keras jika membawa beban penuh di area perbukitan.

Hal ini mengakibatkan jarak tempuh baterai yang semula diklaim 40 km menyusut drastis menjadi hanya 20-25 km per pengisian daya.

Beban Tambahan bagi Pedagang

Ironisnya, warga justru harus mengeluarkan modal tambahan agar gerobak “gratis” ini bisa digunakan untuk berdagang.

Ia mengaku merogoh kocek Rp350.000 untuk memasang etalase kaca dan memodifikasi pintu gerobak agar lebih mudah melayani pembeli.

Modifikasi mandiri dan beban dagangan yang berat ini berisiko memperpendek umur pakai komponen gerobak.

Ban belakang dan rem menjadi bagian yang paling cepat aus karena menahan momentum beban yang melebihi desain aslinya.

Selain itu, suhu operasional yang panas di Bandar Lampung dapat memangkas umur baterai dari klaim tiga tahun menjadi hanya satu setengah tahun saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *