DASWATI.ID – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ancam nolkan anggaran daerah yang tak serius cetak sawah.
Mentan Amran memberikan peringatan keras tersebut kepada seluruh Kepala Dinas Pertanian di Indonesia dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Ia menginstruksikan percepatan program cetak sawah dan optimalisasi lahan demi menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional.
Amran menegaskan akan mengevaluasi progres setiap daerah. Ia meminta laporan signifikan masuk paling lambat akhir Maret 2026 sebagai bahan pertimbangan kebijakan anggaran.
Baca Juga: Pemerintah Kebut Penetapan Lahan Sawah Dilindungi di 29 Provinsi
Evaluasi Anggaran dan Ketegasan Pusat
Mentan Amran secara lugas menyatakan bahwa daerah yang tidak menunjukkan keseriusan akan kehilangan dukungannya.
Pemerintah pusat tidak segan mengalihkan dana dari wilayah yang capaiannya rendah ke daerah yang lebih produktif.
“Yang tidak serius, kabupaten yang tidak serius, tolong nolkan anggarannya. Sampaikan, Menteri yang tanggung jawab,” tegas Mentan Amran di hadapan jajaran Eselon I, II, dan Kepala Dinas se-Indonesia.
Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab moral agar anggaran pertanian yang mencapai puluhan triliun rupiah benar-benar menghasilkan produksi nyata.
Evaluasi besar-besaran ini dijadwalkan terlaksana pada April 2026, tepat setelah Idulfitri.
Baca Juga: Deadline 6 Bulan: Daerah Wajib Revisi Tata Ruang demi Sawah

Target Cetak Sawah dan Stok Beras
Program cetak sawah menjadi fondasi utama keberlanjutan pangan. Setelah berhasil mencetak 200 ribu hektare tahun lalu, Kementan kini mematok target 250 ribu hektare pada tahun 2026.
Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat stok cadangan beras nasional secara masif.
Berdasarkan data harian, pengadaan beras per Januari 2026 telah meningkat tajam sebesar 78 persen.
Mentan optimistis stok nasional berpotensi menembus angka 6 juta ton dalam tiga bulan ke depan, sebuah rekor tertinggi sejak Indonesia merdeka.
“Kalau tren ini bertahan tiga bulan saja, hampir pasti stok kita tembus 6 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama kita merdeka,” tambahnya.
Fokus pada Hilirisasi dan Komoditas Strategis
Selain komoditas padi, pemerintah tetap fokus pada percepatan swasembada kedelai dan bawang putih.
Sektor perkebunan juga menjadi perhatian melalui penguatan hilirisasi pada komoditas kakao, kopi, kelapa, hingga lada.
Melalui disiplin realisasi anggaran dan sinergi pusat-daerah, Kementan berupaya membangun sistem ketahanan pangan yang kokoh.
Target akhirnya bukan sekadar peningkatan produksi jangka pendek, melainkan kesejahteraan petani Indonesia secara berkelanjutan.

