Oleh: Mahendra Utama
DASWATI.ID – Lampung mentransformasi singkong menjadi bioetanol lewat sinergi PTPN dan Unila guna mewujudkan kemandirian energi nasional sesuai visi Presiden Prabowo Subianto.
DALAM ARTIKEL:
Lampung tidak pernah kekurangan narasi tentang singkong, namun selama ini ceritanya sering terjebak dalam lingkup komoditas mentah atau sekadar olahan pangan tradisional.
Kini, narasi tersebut bergeser secara radikal melalui transformasi singkong menjadi bioetanol.
Langkah strategis ini bukan sekadar proyek industri biasa, melainkan manifestasi nyata dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nabati nasional.
Melawan Kutukan Komoditas
Hilirisasi menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan kutukan komoditas (commodity curse).
PTPN Group, sebagai perpanjangan tangan negara, memegang mandat besar untuk memastikan singkong memiliki nilai tambah yang tinggi sebelum meninggalkan tanah Lampung.
Pemanfaatan singkong menjadi bioetanol adalah jawaban konkret atas tantangan transisi energi global yang kian mendesak.
Dengan mengintegrasikan sumber daya lokal ke dalam rantai pasok energi, Indonesia menciptakan kemandirian yang tidak mudah goyah oleh fluktuasi pasar dunia.
Sinergi Strategis Triple-Helix
Transformasi industri yang tangguh mustahil berjalan tanpa landasan ilmiah yang kuat.
Universitas Lampung (Unila) mengambil peran krusial melalui riset bioteknologi dan pengembangan varietas singkong berkadar pati tinggi demi efisiensi maksimal.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Lampung bertindak sebagai dirigen yang memastikan iklim investasi dan regulasi lokal mendukung ekosistem ini.
Sinergi triple-helix antara pemerintah, akademisi, dan industri ini merupakan model ideal pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan visi Asta Cita.

Kedaulatan Energi dan Petani
Presiden Prabowo Subianto berulang kali menekankan bahwa Indonesia harus mandiri secara energi.
Bioetanol berbasis singkong memiliki keunggulan kompetitif, terutama karena kemampuan adaptasi lahan di Lampung yang sangat luas.
Kehadiran industri bioetanol ini tidak hanya menghemat devisa negara dengan mengurangi impor BBM, tetapi juga mengangkat taraf hidup petani lokal.
Harga singkong yang selama ini fluktuatif kini menemukan “jangkar” baru pada industri energi yang memiliki permintaan jauh lebih stabil.
Menuju Indonesia Emas 2045
Proyek hilirisasi di Lampung membuktikan kehadiran negara dalam mengelola kekayaan alam secara cerdas dan terukur.
Jika konsistensi ini terjaga, Lampung akan dikenal dunia sebagai lumbung energi hijau yang menggerakkan roda ekonomi nasional.
Langkah kolaboratif PTPN, Unila, dan Pemprov Lampung adalah awal dari maraton panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Melalui langkah ini, ketahanan pangan dan energi bukan lagi sekadar mimpi di atas kertas, melainkan realitas yang dapat dirasakan langsung di tangki bahan bakar dan meja makan setiap warga. (*)
*Mahendra Utama–Pemerhati Pembangunan


