DASWATI.ID – Tim SAR Gabungan menemukan jasad Satriya bocah 10 tahun yang hanyut di Rajabasa setelah menyisir sungai sejauh 4 km menggunakan teknologi drone thermal.
DALAM ARTIKEL:
Hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung pada Jumat (6/3/2026) sore menyisakan duka mendalam bagi warga Jalan Abdul Hamid, Kecamatan Rajabasa.
Satriya, seorang bocah berusia 10 tahun, kehilangan nyawanya setelah terseret arus sungai yang meluap tiba-tiba.
Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang korban jiwa akibat bencana banjir yang melanda ibu kota Provinsi Lampung tersebut.
Pencarian di Tengah Banjir
Peristiwa memilukan ini bermula saat hujan dengan intensitas tinggi memicu luapan air sungai pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Tim SAR Gabungan segera bergerak melakukan koordinasi dan pencarian setelah menerima laporan dari Camat Rajabasa pada malam harinya.
Ridho Afriza, Dantim Rescuer Basarnas Lampung, menjelaskan bahwa timnya langsung melakukan penyisiran visual di sekitar lokasi awal hilangnya korban.
Di tengah upaya pencarian Satriya, tim penyelamat tetap sigap membantu warga lain yang terjebak bencana.
“Dalam proses pencarian tersebut, tim juga sempat mengevakuasi seorang warga lanjut usia bernama Aripin Rahman yang berada di sekitar area pencarian dalam keadaan selamat,” ujar Ridho dalam keterangannya terkait jalannya operasi.
Baca Juga: Akhir Pilu Bocah 9 Tahun yang Hanyut di Sungai Campang Raya
Akhir Pilu di Hari Kedua

Petugas terus melanjutkan upaya pencarian hingga Sabtu (7/3/2026) pagi dengan memperluas jangkauan penyisiran sejauh 4 kilometer ke arah hilir.
Tim bahkan menggunakan teknologi drone thermal untuk memantau medan dari udara guna mempercepat penemuan korban.
Namun, harapan keluarga untuk menemukan Satriya dalam keadaan selamat pupus saat tim menemukan jasadnya di antara sisa banjir.
Tim SAR menemukan Satriya dalam kondisi tidak bernyawa pada pukul 08.15 WIB, tidak jauh dari titik awal ia hanyut.
“Korban akhirnya ditemukan sekitar 800 meter dari lokasi kejadian awal dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dievakuasi ke rumah duka,” kata Ridho.
Penemuan ini menandai berakhirnya operasi SAR secara resmi bagi bocah malang tersebut.
Evaluasi Ketahanan Kota
Kepergian Satriya menjadi potret kelam dari bencana besar yang menerjang 12 dari 20 kecamatan di Bandar Lampung.
Banjir kali ini tidak hanya merenggut tiga nyawa, tetapi juga mengungkap kelemahan infrastruktur kota dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung memberikan catatan kritis atas munculnya puluhan titik genangan air yang merugikan warga.
WALHI Lampung mencatat setidaknya terdapat 38 titik banjir yang muncul sebagai bukti nyata buruknya sistem ketahanan kota terhadap bencana.
Tragedi yang menimpa Satriya menjadi pengingat keras bagi pemangku kebijakan untuk segera membenahi sistem drainase dan perlindungan warga dari ancaman banjir yang terus berulang.
Baca Juga: Banjir Ibu Kota Provinsi Lampung: Pemerintah Alpa, Warga Binasa

