Oleh: Mahendra Utama
DASWATI.ID – Lonjakan harga plastik menjepit industri mamin Indonesia. Produsen menerapkan shrinkflation guna bertahan di tengah tingginya ketergantungan impor bahan baku kemasan.
Kenaikan harga bahan baku plastik dalam beberapa kuartal terakhir menciptakan tekanan struktural yang menjalar dari pabrik petrokimia hingga ke rak minimarket.
Industri makanan dan minuman (mamin) kemasan di Indonesia, yang menyumbang sekitar 36 persen dari total PDB manufaktur nasional, kini berdiri di persimpangan jalan yang sulit.
Para produsen harus memutar otak untuk mempertahankan margin keuntungan tanpa kehilangan konsumen setia mereka.
Efek Domino yang Tak Terhindarkan
Berdasarkan teori rantai nilai (value chain) Michael Porter, setiap guncangan pada input produksi pasti akan menjalar ke seluruh mata rantai industri.
Plastik memegang peran vital sebagai komponen kemasan, mulai dari botol PET untuk minuman, kemasan fleksibel camilan, hingga wadah produk susu.
Saat harga resin plastik global melonjak akibat volatilitas minyak bumi dan gangguan logistik, produsen lokal menghadapi pilihan yang semakin terbatas.
Siasat “Shrinkflation” yang Merugikan
Kondisi ini memicu penerapan strategi shrinkflation, sebuah konsep dari ekonom Richard Thaler di mana produsen mengecilkan ukuran produk alih-alih menaikkan harga jual.
Fenomena ini mulai marak di pasar Indonesia, di mana bobot bersih produk berkurang meski banderol harga tetap sama.
Praktik ini secara diam-diam merugikan konsumen yang mendapatkan kuantitas lebih sedikit untuk harga yang mereka bayar.
Kerentanan Sektor UMKM
Ketimpangan kemampuan adaptasi terlihat jelas antara korporasi besar dan pelaku UMKM.
Jika perusahaan besar mampu bermanuver melalui kontrak jangka panjang atau diversifikasi bahan, pelaku UMKM justru tidak memiliki kemewahan tersebut.
Mereka terpaksa membeli plastik dalam jumlah kecil dengan harga per unit yang jauh lebih tinggi.
Hal ini mempertegas peringatan ekonom Faisal Basri bahwa struktur industri nasional masih sangat rentan terhadap guncangan harga karena tingginya ketergantungan pada bahan baku impor.
Inovasi sebagai Strategi Bertahan
Ketergantungan pada impor menjadikan industri mamin sangat terekspos terhadap fluktuasi kurs dan harga komoditas global yang sulit dikendalikan.
Oleh karena itu, transisi menuju kemasan ramah lingkungan berbasis biomaterial domestik, seperti singkong atau tebu, menjadi kebutuhan mendesak.
Langkah ini bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan strategi nyata untuk menjaga ketahanan industri nasional.
*Peran Pemerintah dan Masa Depan*
Pemerintah harus segera hadir dengan insentif fiskal dan regulasi yang kuat untuk mendorong substitusi impor bahan plastik.
Tanpa kebijakan yang tepat sasaran, lonjakan harga plastik akan terus menjadi bom waktu bagi daya saing industri mamin Indonesia di pasar regional.
Transformasi menuju kemasan mandiri adalah kunci agar industri kebanggaan nasional ini tidak kian limbung dalam persaingan global yang kian ketat. (*)
*Penulis adalah pemerhati pembangunan yang fokus pada isu industri


