Oleh: Mahendra Utama–Pemerhati Pembangunan asal Lampung, TPP Gubernur Lampung Bidang Perindag
DASWATI.ID – Di balik aromanya yang tajam dan kerap memicu kontroversi, jengkol dan petai sesungguhnya adalah “emas hijau” yang tertanam di tanah Lampung.
Bagi masyarakat Bumi Ruwa Jurai, kedua komoditas ini bukan sekadar pelengkap hidangan tradisional seperti Seruit, melainkan pilar ekonomi dan identitas budaya yang sangat kuat.
Keberadaan mereka di meja makan mencerminkan kesejahteraan ribuan petani yang menggantungkan hidup pada kelestarian tanaman ini.
Potensi Ekonomi: Lonjakan Produksi dan Kontribusi Nasional
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi posisi tawar Lampung yang luar biasa dalam industri ini.
Produksi jengkol Lampung pada tahun 2024 tercatat mencapai 193.097 kuintal, dengan Lampung Selatan sebagai sentra produksi utama.
Lonjakan serupa terjadi pada komoditas petai yang diproyeksikan melesat hingga 15.500 ton pada tahun 2025, meningkat signifikan dari angka 10.000 ton di tahun 2020.
Dengan kontribusi sebesar 5-7% terhadap produksi nasional, Lampung memegang peranan strategis yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari lapangan kerja yang luas bagi petani di Lampung Utara, Lampung Timur, hingga Tanggamus.
Apotek Hidup dan Motor Penggerak UMKM Lokal
Selain nilai ekonomi mentah, jengkol dan petai memiliki dimensi nilai tambah melalui sektor UMKM dan kesehatan.
Olahan kuliner seperti semur jengkol, keripik pedas, hingga sambal balado telah menjadi ikon ekonomi kreatif yang menghidupkan dapur-dapur masyarakat.
Produk-produk ini mentransformasi bahan baku sederhana menjadi komoditas bernilai jual tinggi.
Dari perspektif medis, kedua tanaman ini adalah “apotek hidup” yang tumbuh di pekarangan kita. Jengkol kaya akan protein, zat besi, dan antioksidan.
Sementara itu, petai mengandung kalium untuk kesehatan jantung, serat untuk pencernaan, serta senyawa aktif yang berdasarkan riset terbaru mampu menangkal diabetes dan penuaan dini.
Inovasi dan Tantangan Menuju Budidaya Berkelanjutan
Namun, optimisme ini dibayangi oleh ancaman nyata perubahan iklim yang membuat jadwal panen menjadi tak menentu dan harga fluktuatif.
Lampung tidak boleh terjebak dalam nostalgia cara lama dan harus segera mengadopsi inovasi teknologi.
Kita perlu belajar dari keberhasilan Johor yang menerapkan irigasi drip modern atau Wonosobo yang sukses mengintegrasikan petai dengan perkebunan kopi melalui sistem wanatani.
Negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand bahkan telah lebih dulu melangkah dengan standarisasi budidaya berkelanjutan dan sertifikasi organik.
Sudah saatnya pemerintah daerah dan masyarakat bersinergi memberikan dukungan nyata bagi petani melalui penyediaan teknologi modern serta kebijakan yang ramah lingkungan.
Menjaga Warisan untuk Masa Depan
Petai dan jengkol adalah aset nasional yang harus kita jaga demi kedaulatan pangan dan sumber gizi generasi mendatang.
Kita berutang apresiasi pada para petani yang setia merawat kebun serta pegiat kuliner yang mempromosikan komoditas ini sebagai warisan leluhur.
Transformasi jengkol dan petai dari komoditas yang “berbau” menjadi produk ekonomi berkelas adalah sebuah keharusan.
Mari kita pastikan bahwa aroma khas ini tetap hadir di meja makan sebagai simbol kemakmuran dan kebanggaan identitas Lampung yang mendunia. (*)
Baca Juga: Pertamina Incar 1,4 Miliar Barel Minyak di Lampung & Sumsel

