Politik » PSI: Partai Awan Digital Tanpa Akar

PSI: Partai Awan Digital Tanpa Akar

oleh
PSI: Partai Awan Digital Tanpa Akar
Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

DASWATI.ID – PSI memperkuat strategi digital dan merekrut figur populer untuk menggaet pemilih muda sekaligus menghindari status partai musiman pada persaingan ketat Pemilu 2029.

Di tengah pergeseran budaya politik menuju digitalisasi, eksistensi partai politik kini tidak lagi hanya ditentukan oleh kehadiran fisik di lapangan.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi salah satu contoh bagaimana kekuatan digital mampu menjaga eksistensi sebuah partai di panggung nasional.

Meski demikian, tantangan besar kini menanti untuk mengubah dukungan di ruang maya tersebut menjadi kekuatan politik yang permanen dan stabil.

Dominasi Pemilih Muda

Digitalisasi politik memudahkan partai menjangkau segmen pemilih muda yang diprediksi akan mendominasi pada Pemilu 2029 mendatang.

Akademisi Universitas Lampung, Bendi Juantara, menilai media sosial telah menjadi instrumen utama dalam mengemas isu-isu populer yang menjadi konsumsi publik generasi baru.

Melalui aktivitas intensif di dunia digital, sebuah partai akan lebih mudah menarik perhatian serta mengumpulkan dukungan massa dalam waktu singkat.

“Kekuatan media sosial dan isu-isu yang menyertainya adalah topik yang sering jadi konsumsi publik anak muda. Dalam kontek demografi politik juga pemilih muda akan dominan 2029,” ujar Bendi saat dihubungi dari Bandar Lampung, Minggu (19/4/2026).

Namun, langkah digital ini barulah tahap awal. Tanpa akar yang menghujam kuat ke struktur masyarakat bawah, partai terancam terjebak dalam posisi sebagai “partai musiman”.

Partai model ini sangat bergantung pada momentum politik sesaat dan popularitas figur semata, sehingga rentan goyah saat badai politik datang.

Magnet Figur Populer

Untuk memperkuat basis massa, salah satu strategi yang dijalankan adalah membuka ruang bagi figur-figur populer dan berpengalaman untuk bergabung.

Masuknya tokoh-tokoh ini diharapkan mampu membawa pengaruh eksternal yang signifikan bagi partai. Langkah ini sebagai bagian dari upaya perluasan dukungan.

“Salah satu strategi PSI adalah membuka masuk figur populer ke dalam partai. Figur populer tentu berimplikasi pada kekuatan eksternal basis massa,” kata Bendi.

Selain figur-figur baru, sosok mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tetap menjadi faktor kunci yang memiliki nilai tawar politik tinggi.

Sosok Jokowi dianggap mampu membentuk peta politik baru di luar struktur kekuasaan formal dan sangat efektif untuk menarik simpati pemilih.

“Figur Jokowi masih memiliki nilai tawar politik yang kuat. Terutama dalam membaca dan membentuk peta politik baru di luar struktur kekuasaan formal saat ini,” jelas Bendi.

Tantangan Institusional Partai

Meskipun memiliki modal digital dan figuritas, tantangan institusionalisasi tetap menjadi hambatan utama.

Bendi mengatakan membangun struktur organisasi yang kuat serta ideologi yang terlembaga membutuhkan waktu dan konsolidasi kader yang mendalam.

Proses ini tidak bisa disamakan secara langsung dengan perkembangan partai-partai mapan yang sudah lama berdiri.

“Membangun struktur organisasi yang kuat, ideologi terlembaga, konsolidasi kader akar rumput, butuh waktu secara internal dan momentum, dan tidak bisa kita samakan, apple to apple dengan partai mapan lain,” ujar dia.

PSI kini berada pada fase krusial untuk mengonsolidasikan basis pemilih nasional agar mampu menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold).

Upaya ini penting agar partai tidak hanya menjadi pemain di permukaan, tetapi juga memiliki fondasi yang kokoh di akar rumput.

“PSI tentu sudah membaca ini, artinya konsolidasi di basis pemilih nasional adalah salah satu target tinggi agar bisa lolos elektoral threshold,” kata Bendi.

Persaingan Ketat 2029

Menyongsong Pemilu 2029, persaingan politik diprediksi akan berlangsung jauh lebih ketat dibandingkan sebelumnya.

Selain harus berhadapan dengan partai-partai besar yang sudah mapan, partai juga akan bersaing dengan partai-partai baru yang membidik segmen pemilih yang sama, yakni anak muda.

“Belajar dari pengalaman pemilu sebelumnya, pemanfaatan momentum menjadi kunci utama untuk memenangkan kompetisi,” kata Bendi.

Keberhasilan partai di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan partai menyeimbangkan antara eksistensi di “awan digital” dengan penguatan struktur nyata di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *