DASWATI.ID – Perekonomian Provinsi Lampung pada Triwulan II-2025 menunjukkan performa positif dengan pertumbuhan yang menguat di berbagai sektor, diiringi oleh perbaikan indikator sosial seperti penurunan angka kemiskinan dan ketimpangan gender.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung yang dirilis pada Rabu (20/8/2025) mencatat geliat ekonomi dan dinamika sosial yang progresif di Bumi Ruwa Jurai.
I. Ekonomi dan Perdagangan Tunjukkan Peningkatan Signifikan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung pada Triwulan II-2025 mencapai Rp134.395,60 miliar atas dasar harga berlaku dan Rp76.047,84 miliar atas dasar harga konstan 2010.
PERTUMBUHAN PDRB:
Ekonomi Lampung tumbuh 5,09 persen (y-on-y) dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya, dan 9,33 persen (q-to-q) dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ini menguat dari 4,80 persen (y-on-y) pada Triwulan II-2024.
Dari sisi produksi, Industri Pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,97 persen (y-on-y).
Sementara itu, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami pertumbuhan tertinggi secara q-to-q sebesar 29,26 persen, didorong oleh musim panen raya.
Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa tumbuh tertinggi sebesar 7,50 persen (y-on-y), sedangkan Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh tertinggi sebesar 16,65 persen (q-to-q).
STRUKTUR EKONOMI:
Struktur perekonomian Lampung masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama: Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (28,51 persen); Industri Pengolahan (18,52 Persen); dan Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor (14,25 Persen).
Sektor pertanian tetap menjadi mata pencarian utama masyarakat Lampung.
- Inflasi Terkendali dengan Pola Nasional
Pada Triwulan II-2025, Provinsi Lampung mengalami inflasi sebesar 0,64 persen, lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 0,98 persen.
PENYEBAB INFLASI:
Kenaikan harga terutama terjadi pada Kelompok Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga (7,92 persen), diikuti oleh Kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya (1,65 persen).
DEFLASI:
Beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan harga (deflasi), antara lain Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (-1,04 persen).
METODOLOGI BARU:
Sejak Januari 2024, pengukuran inflasi menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun dasar 2022=100, dengan cakupan wilayah yang lebih luas dan penambahan pasar daring.
- Nilai Tukar Petani (NTP) Mengalami Pelemahan Triwulanan
Rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung sepanjang Triwulan II-2025 melemah 3,24 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, menjadi 128,95.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh penurunan nilai tukar petani pada subsektor Tanaman Padi dan Palawijaya (-3,34 persen) dan Tanaman Perkebunan Rakyat (-4,40 persen).
Namun, jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2024, rata-rata NTP Lampung mengalami peningkatan sebesar 5,21 persen. Secara regional, NTP Lampung menempati posisi keenam di Pulau Sumatra.
- Ekspor Meningkat, Impor Menurun, Neraca Perdagangan Surplus
EKSPOR:
Nilai ekspor Provinsi Lampung mencapai US$1.473,97 juta pada Triwulan II-2025, mengalami peningkatan signifikan 33,65 persen dibandingkan triwulan yang sama tahun 2024, meskipun turun 6,33 persen dari triwulan sebelumnya.
Komoditas utama yang mendominasi ekspor adalah lemak dan minyak hewan/nabati (40,73 persen), serta kopi, teh, rempah-rempah (25,55 persen). Tujuan utama ekspor adalah Amerika Serikat, China, dan Pakistan.
IMPOR:
Nilai impor Lampung pada Triwulan II-2025 mencapai US$463,93 juta, menurun 32,65 persen dibanding triwulan sebelumnya dan 25,50 persen dibanding Triwulan II-2024.
Golongan barang utama impor adalah bahan bakar mineral (38,37 persen). Negara pemasok utama adalah Brazil, Australia, dan Thailand.
NERACA PERDAGANGAN:
Lampung mencatat surplus neraca perdagangan luar negeri sebesar US$1.010,04 juta pada Triwulan II-2025, melanjutkan tren positif yang konsisten sejak 2020.
II. Sektor Pertanian: Produksi Padi Terus Meningkat
BPS terus menyempurnakan penghitungan luas panen padi menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) yang memanfaatkan teknologi citra satelit.
LUAS PANEN PADI:
Total luas panen padi pada Januari−April 2025 diperkirakan mencapai 251,98 ribu hektare, meningkat sekitar 78,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
PRODUKSI PADI:
Potensi produksi padi pada Januari−April 2025 diperkirakan mencapai 1,31 juta ton GKG, naik sekitar 71,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
PRODUKSI BERAS:
Potensi produksi beras pada Januari−April 2025 juga diperkirakan mencapai 788,62 ribu ton, meningkat 71,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
III. Sosial dan Kependudukan Menunjukkan Perbaikan Kesejahteraan
- Jumlah Penduduk dan Sebaran
Berdasarkan proyeksi SP2020, penduduk Provinsi Lampung pada tahun 2024 mencapai 9.522,91 ribu jiwa, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 1,17 persen.
Pada tahun 2025, Kabupaten Lampung Tengah memiliki jumlah penduduk terbesar (1,54 juta jiwa), diikuti Kota Bandar Lampung (1,23 juta jiwa).
- Angka Kemiskinan Menurun Signifikan
Jumlah penduduk miskin di Lampung pada Maret 2025 mencapai 887,02 ribu orang, dengan persentase 10,00 persen.
PENURUNAN KEMISKINAN:
Angka ini menurun 0,62 persen poin terhadap September 2024 dan 0,69 persen poin terhadap Maret 2024. Ini sejalan dengan penurunan kemiskinan nasional.
GARIS KEMISKINAN:
Garis Kemiskinan pada Maret 2025 adalah Rp612.451,00 per kapita per bulan.
PERBANDINGAN REGIONAL:
Meskipun menurun, persentase penduduk miskin Lampung (10,00 persen) masih berada di posisi ketiga tertinggi di Pulau Sumatra, setelah Aceh dan Bengkulu.
- Ketimpangan Pengeluaran (Gini Ratio) Semakin Menipis
Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Lampung yang diukur menggunakan Gini Ratio pada Maret 2025 adalah sebesar 0,292.
PENURUNAN KETIMPANGAN:
Angka ini turun 0,009 poin dari September 2024 dan 0,010 poin dari Maret 2024, mengindikasikan ketimpangan yang semakin rendah.
KATEGORI RENDAH:
Dengan persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah sebesar 22,66 persen, Lampung berada pada kategori ketimpangan rendah.
- Ketenagakerjaan: Pengangguran Turun, Sektor Pertanian Dominan
Pada Februari 2025, penduduk usia kerja Lampung sebanyak 7.147,00 ribu orang, dengan angkatan kerja 5.085,87 ribu orang. Jumlah pengangguran berkurang sebanyak 0,90 ribu orang dibandingkan Februari 2024.
TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA (TPAK):
TPAK Februari 2025 sebesar 71,16 persen, sedikit menurun dari tahun sebelumnya. TPAK laki-laki (87,38 persen) lebih tinggi dari perempuan (54,28 persen).
TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA (TPT):
TPT Februari 2025 sebesar 4,07 persen, menurun 0,05 persen poin dibandingkan Februari 2024 [51]. TPT Lampung menempati posisi terendah ketiga di Pulau Sumatra.
SEKTOR PENYERAPAN TENAGA KERJA:
Tiga lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja paling banyak adalah Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (46,96 persen), Perdagangan Besar dan Eceran (17,52 persen), serta Pertambangan dan Industri Pengolahan (8,04 persen).
STATUS PEKERJAAN:
Mayoritas penduduk bekerja berstatus buruh/karyawan/pegawai (26,92 persen). Sebanyak 70,60 persen penduduk bekerja pada kegiatan informal, dengan persentase kegiatan formal meningkat 1,90 persen poin dibandingkan Februari 2024.
- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Terus Membaik
IPM Provinsi Lampung pada tahun 2024 mencapai 73,13, tumbuh 0,90 persen dibandingkan tahun 2023.
PERTUMBUHAN KONSISTEN:
IPM Lampung tumbuh secara konsisten dan semakin membaik, meskipun masih di bawah IPM nasional (75,02). IPM Lampung berada di posisi terendah di Sumatra.
KOMPONEN PENDORONG:
Peningkatan didorong oleh semua komponen pembentuk IPM, terutama pengeluaran per kapita yang disesuaikan yang mencapai Rp11.258 ribu, naik 4,54 persen. Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) juga meningkat.
STATUS REGIONAL:
Pada tahun 2024, 12 kabupaten di Lampung masuk kategori IPM “Tinggi”, sementara Kabupaten Mesuji masih “Sedang”. Kota Bandar Lampung dan Kota Metro bahkan mencapai kategori IPM “Sangat Tinggi” (≥ 80).
- Indeks Pembangunan Gender (IPG), Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), dan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Mengalami Peningkatan Kesetaraan
IPG:
Capaian IPG Lampung tahun 2024 sebesar 91,57, berada di bawah IPG Nasional (92,46) namun menempati posisi ketujuh di Sumatra. Ini menunjukkan adanya ketimpangan pembangunan yang semakin mengecil antara perempuan dan laki-laki.
IDG:
IDG Lampung tahun 2024 mencapai 67,71 yang mencakup 17,65 persen keterwakilan perempuan di parlemen dan 54,80 persen tenaga profesional. IDG Lampung berada pada urutan keenam tertinggi di Sumatra.
IKG:
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Provinsi Lampung tahun 2024 sebesar 0,399 turun 0,038 poin dibandingkan tahun 2023.
Penurunan ini konsisten selama lima tahun terakhir, mengindikasikan ketimpangan gender yang semakin menyempit atau kesetaraan yang semakin membaik, terutama dipengaruhi oleh perbaikan dimensi kesehatan reproduksi. IKG Lampung termasuk posisi keenam terendah di Sumatra.
Secara keseluruhan, Triwulan II-2025 menandai periode pertumbuhan ekonomi yang kuat dan perbaikan berkelanjutan dalam berbagai indikator sosial di Provinsi Lampung, memberikan optimisme bagi pembangunan daerah ke depan.
Baca Juga: Dari Ladang ke Industri: Lanskap Ekonomi Lampung di Paruh Pertama 2025

