DASWATI.ID – Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Rokan, Eviyanti Rofraida, menyatakan optimisme dalam menemukan cadangan minyak ekonomis melalui survei seismik 2D di wilayah Provinsi Lampung dan Sumatra Selatan.
Tahapan awal eksplorasi di Wilayah Kerja Sumbagsel I ini untuk memetakan struktur geologi bawah permukaan guna memastikan keberadaan minyak sebelum tahap pengeboran dilakukan.
“Kami lakukan survei seismik dulu untuk pengambilan data. Insyaallah kalau memang bagus nanti akan lanjut, dipastikan lagi dengan pengeboran. Selanjutnya, apabila menemukan cadangan yang ekonomis akan berkembang menjadi produksi,” ujar Eviyanti usai pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Lampung dan Komisi XII DPR RI di Bandar Lampung, Jumat (20/2/2026).
Ia menambahkan bahwa jika survei ini berhasil menemukan cadangan yang diharapkan, Pertamina memproyeksikan produksi migas di wilayah tersebut dapat dimulai pada tahun 2032.
Saat ini, fokus utama perusahaan adalah melakukan tahapan survei di area sepanjang hampir 180 kilometer untuk mengonfirmasi apakah cekungan fluida yang terdeteksi berisi air atau minyak.
“Di Lampung ini ada cekungan fluida, tapi cekungan fluida ini kan harus dikonfirmasi berisi air atau minyak, kalau minyak, ini ekonomis tidak untuk diangkat. Jadi masih tahapan, tapi sudah ada gambaran. Ada beberapa sumur tapi ini untuk satu sumur dulu. Ini masih survei seismik,” jelas Eviyanti.
Ia memastikan seluruh proses dan tahapan eksplorasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan menghormati hak-hak masyarakat terdampak.
“Untuk mitigasi risiko sosial, sebenarnya perusahaan oil dan gas itu sangat hati-hati terhadap penentuan. Proses perizinannya juga sangat ketat, bagaimana penggunaan kawasan hutan, bagaimana beroperasi di masyarakat, ukuran, jarak, dan sebagainya itu sudah ada ketentuan yang sangat rigid,” kata dia.
“Tentunya kami juga melakukan komunikasi dan sosialisasi pada tahapan selanjutnya apabila di lima kabupaten itu kami melaksanakan project di pertengahan tahun 2026,” lanjut Eviyanti.
Kegiatan eksplorasi ini telah dijadwalkan berlangsung dari Desember 2025 hingga Agustus 2026 di lima kabupaten yaitu Tulang Bawang, Tulangbawang Barat, Way Kanan, Lampung Tengah, dan Lampung Timur. Proyek ini akan menjangkau sekitar 35 kecamatan dan 142 desa.
Untuk meminimalisir dampak, Pertamina berkomitmen melakukan mitigasi risiko sosial melalui komunikasi dan sosialisasi yang ketat sesuai regulasi yang berlaku.
“Sosialisasi terkait risiko-risiko pastinya harus kami lakukan keterbukaan tapi karena ini masih seismik jadi sangat minim sekali untuk berdampak lebih jauh,” ujar dia.
Eviyanti menjelaskan bahwa teknologi seismik yang digunakan relatif minim dampak karena hanya menanamkan alat kecil untuk mengirimkan getaran ke lapisan bawah tanah.
Namun, transparansi tetap menjadi prioritas untuk mencegah potensi resistensi sosial di lapangan.
“Dalam proses seismik atau penanaman alat, apabila ada tanam tumbuh di atas lahan warga, tentu harus kami ganti, itu sudah ada SK Gubernur Lampung per tanggal 26 Januari 2026 kemarin,” tutur dia.
Selain itu, dukungan dari Pemprov Lampung juga terlihat dari pendekatan persuasif yang dilakukan terhadap pihak perkebunan besar yang lahannya akan dieksplorasi.
“Kemarin kami konsolidasi dengan pihak perkebunan, kami mendapatkan dukungan dari Pemerintah Daerah Provinsi Lampung. Kami melakukan komunikasi intensif dan koordinasi,” pungkas dia.
Baca Juga: Pemprov Lampung Kawal Eksplorasi Migas Pertamina di 5 Kabupaten

